Backpacker ke Singapura (Part 1)

​Halooo…
Kali ini saya ingin bernostalgia mengenai jalan-jalan saya ke Singapura beberapa waktu lalu yang sekaligus menjadi kali pertama saya menapakkan kaki di luar Indonesia.
Acara jalan-jalan gratis ini disponsori oleh International Office ITS. Jadi tujuan utamanya adalah meningkatkan international exposure terutama untuk mahasiswa golongan kurang mampu melalui kegiatan Studi Ekskursi. Thanks very much for the money and opportunity given. Hehe
Awalnya semua akomodasi dan semacamnya itu diatur oleh panitia. Namun karena keteledoran saya yang lupa mengirim paspor, alhasil saya harus mencari akomodasi sendiri sesuai dengan budget yg diberikan.
Kalau pembaca penasaran tentang jalan-jalan ke Singapura ala backpacker dengan bugdet minim, keep on reading

Continue reading

Past Year Memory

Hello! It’s 2nd month of 2018!

It’s been really a long time not to write on this blog. About 5 months since my last post. Well actually I wrote some shitty post, then I deleted it. And this post is about my experience, I don’t know is it good or bad one.

Now I’m lying on my bed and wonder how come I pass through the past tough year. Let me tell you some stories. I don’t write this to beg your attention. I just want to share that some hard feelings could be really a good thing to make you better.

Last year was the hardest moment and lowest path for me. Too many small problems that accumulated in my mind. I regretted the past that I knew it would never change. I doubt about my present abilities. I feared about the future, about what I will be. I drowned in my over-thinking.

On the other hand, the emptiness started to grow. I am an independent person that used to do everything by myself. I was jealous of every person who always had a friend to help him/her or simply to talk with. And I don’t have one. I thought that no one understands me. They were never stood in my place, never step in my step, so they would never really understand, right? So, I kept whatever in my mind just in me, closed it tightly, covered it perfectly.

I gave my society a bunch of smiles. I hardly adapt to their jokes, laughed, but I didn’t understand. What I realized inside was I couldn’t deal with extrovert easily. But yeah, the day must go on with a mask.

Time by time, I felt more complicated. Guilt, fear, anxiety, somehow haunted me in every way I did. I thought that I was just a shit and useless person. Every night I tried to sleep, but I couldn’t. I stayed awake with closed eyes until the dawn come. I didn’t have enough sleep for a couple of weeks. I was fragile both physically and emotionally.

At a point, I thought I can’t handle my loneliness, I decided to seek for help. I was quite a sane to understand whatever I feel would lead me to depression, and the worst, suicidal. Then I sat in the same room with a psychologist. She said that I did a great movement to come before everything gonna be worse.

She listened to me deeply. Maybe she didn’t know me, but she never judges me for what I feel. So, I felt secure to share what I face. She gave me some advices. I’ll tell you in a different time, I think. But, in essence, she said that I should release my over-thinking and accept everything I get.

I tried to deal with myself by accepting. Maybe I’m good at this, so I’m no longer complaining about the bad luck happened to me. I gained a better sleep than before.

And I tried whatever I could to decrease my over-thinking. But in this case, I expressed my feelings in a wrong way. When someone told me, I started to change. But I didn’t regret because I thought that it was part of self-healing. Everyone made a mistake and everyone deserves a better chance, right?

Sometimes people only need a good listener, who not only hearing but listening. And an understanding from their society for not judge them before knowing their stories.

If you think you feel like what I feel, don’t be hesitated to seek for help. Please don’t destroy yourself…

For every people who read this post, remember that not every smile keeps a good thing. You don’t have any idea how can a smile hide a bunch of bad feeling. Open your eyes and ears, maybe your family or your close friends need your help. And please, don’t judge easily…

Thank you for reading this far. It’s a long story, right? This is really what happened to me. I did great, didn’t I? (Just tell me I did great ;))

 

Sebingkai Pigura Angan

Baca Sebuket Bunga Wisuda terlebih dahulu

Derai hujan yang cukup deras mengguyur bumi ibukota. Genangan air di berbagai sudut jalan membuatku mengenang dan mengangan. Ya. Hujan memang tentang 1% genangan, sisanya angan dan kenangan. Bagiku keduanya memiliki porsi yang sama. Sama-sama membuat sesak.

Kenangan itu datang ketika dia dengan berani memberikan buket bunga plastik yang saat ini terpajang manis di sudut kamar. Aku tak mau berekspektasi lebih saat itu, bahkan aku menganggapnya sebagai ucapan terima kasih yang memang layak aku terima. Namun rupanya keikhlasan untuk melepasnya terganjar sesuatu yang lebih indah. Perasaannya.

“Kenapa tertawa, Ra?”katanya saat itu, bingung.

“Mas Natha ini saudaraku, Ris.”

Dia mengernyit. “Setauku kamu anak pertama. Kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya saudara lain… sepupu?”

“Tenang saja, bro. Kesempatanmu masih terbuka lebar. Goodluck ya!”ucap Mas Natha lalu melenggang ke arah makanan (lagi).

Dia terlihat kikuk. Berkali-kali tangannya mengusap tengkuk atau rambutnya yang tidak gatal.

“Jadi?”tanyanya.

“Apa?”

“Gimana?”

“Gimana apanya?”

“Bagaimana denganmu? Dengan…” Ia memberi jeda. “Perasaanmu?”tanyanya ragu-ragu.

Saat itulah pertama kali seumur hidupku ada orang yang mempertanyakan perasaanku. Jangan tanya bagaimana rasanya. Aku pun tak bisa menjabarkannya dengan mudah.

“Setiap hati selalu menyimpan sebuah nama bukan? Dan ya, aku menyimpan namamu,”jawabku jujur.

Ia tersenyum. Senyumnya indah hingga menyentuh mata. Pun begitu denganku. Tuhan menciptakan keajaiban dengan menciptakan sebuah perasaan yang bersambut. Salah satu kebahagiaan yang akan terpatri hangat.

Tamat? Belum. Cerita pendek ini bukan roman picisan yang akan selamanya berakhir bahagia dengan mudahnya. Sejujurnya aku tidak mengetahui bagaimana akhir dari skenario yang digariskan Tuhan. Namun yang jelas kenangan manis itu akhirnya merupa angan. Impian. Belaka.

“Setiap hati juga menyimpan cita-cita. Selalu ada angan yang ingin diperjuangkan. Aku ingin jadi professional process engineer, juga kamu yang ingin jadi operational director. Bukan begitu, Ris?” Aku memberi jeda. Tidak terlalu lama sampai ia tidak sempat menjawab. “Masih ada waktu untuk kita saling memantaskan diri untuk seseorang yang memang layak nanti.” Aku menatapnya, lalu tersenyum.

“Aku akan menunggu,”ucapnya pelan namun tegas.

“Kamu ingat tidak pernah aku ajak melihat hujan meteor? Saat itu kerlip bintang bersentuhan dengan lampu kota, sedekat itu. Kamu tahu, Ris, jarak langit dan horizon akan lebih dekat daripada jarak Aussie-Indonesia yang ada di lembar berbeda di peta.”

“Ra?” Ia berucap, getir.

“Aku tidak tau seberapa kuat perasaanku padamu, aku juga tidak tau seberapa kuat perasaanmu padaku. Aku tidak mau kamu atau aku menjanjikan sesuatu apapun. Jika memang dalam perjalanan kita masing-masing nantinya kita akan berlabuh pada orang lain, berarti perasaan kita memang tidak cukup kuat untuk berjuang dalam penantian. Sesederhana itu,”lanjutku tak kalah getirnya.

Kebahagiaan perasaan yang bersambut tak lama menjadi kegetiran yang pilu. Mungkin saat itu aku memang egois hingga ia dan aku sama-sama terluka. Namun sampai sekarang aku tidak pernah menyesal akan pilihanku. Aku bahagia dengan kehidupanku. Hanya saja aku tidak menyangka jika perasaanku masih sama kuatnya seperti lima tahun lalu.

Aku tidak tau dengan dia. Perasaan yang bersambut itu apakah menjadi kenangan yang benar-benar nyata, atau kini menjadi angan yang aku inginkan nyatanya. Pun kalau menjadi angan, aku tak berharap banyak. Apalagi setelah ia mengunggah sebuah fotonya dengan seorang wanita cantik di Gedung Opera Sydney. Wanita itu bisa saja teman kerjanya, sahabatnya, atau pacarnya.

Pacarnya ya? Aku menarik bibir sekilas. Tersenyum getir.

Memang kalau dia sudah punya yang lain aku harus apa? Toh waktu itu aku yang melepaskannya. Aku menerima konsekuensi sakit hati yang mungkin akan menghujam lagi. Asal dia bahagia, kenapa tidak? Dulu aku bisa merelakannya demi karirku dan karirnya. Dan sekarang aku telah mengikhlaskannya untuk kedua kalinya.

Aku menghembuskan napas. Sudah lebih dari satu jam aku menunggunya di Gate 2C Terminal 3. Kabar sejumlah penerbangan ditunda karena cuaca buruk membuatku harap-harap cemas. Apakah pesawatnya mampu melewati badai? Apakah pesawatnya baik-baik saja? Apakah dia baik-baik saja? Apakah hatinya baik-baik saja? Apakah hatiku baik-baik saja?

Dia akhirnya muncul melewati pintu keluar. Aku berdiri, namun tidak berjalan mendekat kepadanya. Aku lebih memilih menenangkan jantungku yang kini tak karuan iramanyaa. Rasanya masih sama setiap kali aku berada di dekatnya. Aku selalu terpesona.

Ia melihatku dan berjalan ke arahku.

“Kok kamu gantengan sih?”candaku dengan mengatakan yang sebenarnya. Mencoba biasa. Menutupi gemuruh yang sama kencangnya dengan hujan di luar sana. Mencoba selalu tersenyum baik-baik saja.

“Ganteng dari lahir, gimana dong?”balasnya.

“Kurang-kurangin, Ris.”

Defaultnya udah gini. Nggak bisa diapa-apain lagi.”

Kami berjalan beriringan memecah lalu lalang orang. Bandara ini selalu sibuk dengan kedatangan dan kepergian. Sama sibuknya dengan hatiku. Bedanya hanya satu orang penyebab kesibukan itu.

“Gimana Aussie?”

Not really good, to be honest. Cewek-ceweknya pada jutek, nggak murah senyum.”

“Bukan seleramu cewek bule?”tanyaku.

“Pribumi aja deh. Manis-manis gimana gitu.” Lalu ia tertawa. Tidak memperdulikan sesuatu yang sedang melompat-lompat di dekat paru-paruku.

“Ra?”panggilnya pelan.

“Ya?”

“Tapi kayaknya seleraku emang bule deh. Emma Watson nggak akan nolak kalau diajak nikah.”

Aku mengangkat bahu jengah. Tidak membalas gurauannya lebih lanjut, aku malah membuka-buka tasku.

“Ini,”kataku sambil menyodorkan pigura berwarna coklat muda bertekstur khas kayu. “Bayar hutang buket bunga wisuda,”lanjutku sebelum ia bertanya.

Ia tersenyum lagi. Masih sama manisnya. Ia menyentuh semua sisi bingkai kayu bercorak floral abstrak tersebut. Warna kayu yang sangat muda ditindas dengan pena khusus dengan tinta coklat tua. Juga ada kaligrafi bertuliskan ‘How long is forever? Sometimes just one second‘. Pigura yang aku buat sendiri, yang menurutku sederhana namun terkesan klasik.

Aku membayangkan bagaimana jika gambar di balik kaca pigura itu adalah potretku dengannya. Pose candid sambil tertawa. Menciptakan memori yang terpatri permanen dalam kaleidoskop kami.

“Ra, masih available?”tanyanya tiba-tiba. Memecah lamunan anganku.

“Apanya?”

“Hatinya.”

Apa katanya barusan?

“Sudah cukup kita memantaskan diri dan mencari kebahagiaan sendiri-sendiri. Kamu sudah menjadi process engineer dan sebentar lagi aku menjadi manager operasional. Kamu sudah mengelilingi dunia, pun begitu denganku. Kamu peduli dengan organisasi lingkunganmu, sedangkan aku di pengembangan kepemudaan. Apa kamu bahagia?”

Aku mengangguk. Dengan cepat ia berbicara lagi, “Aku juga. Kita sudah sangat bahagia dengan kehidupan masing-masing, Ra.”

Ia menatapku dalam. Ketika aku melihat manik matanya, aku semakin tenggelam dan tersesat di sana.

“Sudah saatnya kita berbagi kebahagiaan. Aku ingin menikmati kebahagiaanmu dan aku ingin kamu menikmati kebahagiaanku. Katamu kebahagiaan yang dibagi tidak akan habis dan justru akan bertambah. Bukan begitu?”

Aku kehilangan kata-kataku. Justru bulir air mata jatuh, seiring dengan bulir hujan yang mulai rintik. Aku tau, ia juga tau, bahwa air mata ini bukan lambang kesedihan, tapi untuk sebuah kebahagiaan.

Tentang perasaan yang bersambut, keajaiban Tuhan memang nyata. Dan untuk sambutan yang satu ini, aku tidak akan melepasnya. Lagi.

***

Rekomendasi Penulis Wattpad

Good morning, good people!

Akhir-akhir ini apa yang aku post kok bernuansa sesuatu yang serius ya? Bosan yang serius-serius dan harus mikir, sesekali posting yang ringan boleh lah ya, hehe.

Beberapa waktu ini aku sering berlibur ke dunia oranye untuk membaca cerita-cerita. Bukan Belanda lho ya! Yap, selamat datang di Wattpad!

Tau Wattpad kan ya? Itu lho sosial media untuk penulis dan pembaca. Tidak hanya membaca, tetapi juga komentar dan saling berinteraksi. Novel berbagai genre, cerpen, bahkan puisi bisa ditemukan disini.

Banyak novel HITS yang sudah lahir dari wattpad. Sebut saja Dear Nathan karya Erisca Febriani yang booming sefilm-filmnya, bahkan mau dibuat series. Lalu ada A: Aku, Benci, Cinta karya Wulanfadi yang juga ada filmnya. Dan masih banyak lagi.

Banyak orang (termasuk saya awalnya) yang skeptis kalau ada novel dari wattpad yang diterbitkan dan mendongkrak penjualan dengan embel-embel “telah dibaca sekian juta kali di wattpad”

Continue reading

Acara Keluarga

“Oke. Iya, tidak apa-apa. Rapat selanjutnya datang lagi ya.”

Ia menutup ponselnya. “Dia nggak datang lagi?” Ia mengangguk.

“Sudah berapa kali dia tidak ikut rapat? Alasan acara keluarga terus. Yakali tiap minggu keluarga dia bikin kondangan. Dikira kita nggak capek apa harus mengurus apa yang seharusnya dia urus,” gerutuku. Sama sekali tidak menyembunyikan ekspresi kesalku. Dia tersenyum melihatku.

“Karena dia memang ada acara keluarga.”

Aku duduk disampingnya. Menghembuskan nafas dengan keras. “Terserah.”

“Setiap sepulang kuliah ia pergi ke cafe, bukan sebagai pelanggan. Setiap Sabtu dari pagi hingga malam, ia ke mall, sekali lagi bukan sebagai pelanggan. Hanya setiap Minggu ia pulang. Menemani ibunya menonton TV,”jelasnya dengan sangat tenang.

“Wah, menyenangkan sekali nonton TV,”ucapku sarkas. Aku masih jengkel orang itu. Sekarang aku mulai jengkel dengan dia yang selalj membela orang itu.

“Tidak jika menontonnya di rumah sakit…” Ia memberi jeda, namun tak cukup membuatku menyela. “Jiwa,”pungkasnya lirih.

Wajah kesalku melunak. Aku terkesiap.

“Bukankah rutinitas hari Minggunya itu bisa disebut acara keluarga?” Ia tersenyum lagi.

Lidahku kelu. Pertanyaannya begitu menusuk. Sekarang ia menatap jauh ke langit.

“Maaf,”ucapku tulus.

“Tidak apa-apa. Yang di dalam terlalu sulit untuk menjelaskan, yang di luar terlalu sulit untuk mengerti. Manusia selalu begitu kan?”

Sebagai manusia, aku malu.

Tidak Apa-apa Merepotkan Orang Tua

Selamat hari orang tua!

Eh, memangnya ada ya? Ah, ada atau tidak ada pun tak masalah. Jasa orang tua memang sangat besar dan tidak akan mampu dikalahkan oleh apapun. Hal tersebut tidak terbantahkan lagi.

Jadi, apa teman-teman pernah merasa menjadi anak yang tak berguna dan selalu merepotkan orang tua? Saya pernah dan saya rasa pada suatu waktu setiap orang pernah berada di titik ini.

Waktu itu saya meminta orang tua untuk Continue reading