Budaya Basa Basi

Saya mendapat inspirasi untuk menulis ini karena saya sering mendapat teguran karena terlalu to the point. Langsung tepat sasaran dalam penyampaian. Terutama ketika chat. Padahal menurut saya, penyampaian di otak saya sudah cukup ramah. Ini menyadarkan saya bahwa ternyata apa yang ingin saya sampaikan berbeda dengan penerimaan orang lain. Ohya, jujur saya belum pernah marah kepada orang lain karena chat yang notabene adalah ucapan yang dituliskan. Karena saya menyadari intonasi yang kita bayangkan ketika membaca bisa saja berbeda dengan yang penulis ingin ucapkan. Jadi pasti dalam chat akan menimbulkan multitafsir. Maka dari itu sebisa mungkin saya akan membaca dan membayangkan intonasi seramah mungkin.

Baiklah, kembali ke topik utama kita.

Indonesia, negeri yang terkenal dengan keramahannya identik dengan budaya basa basinya. Terutama bila di daerah Jawa. Sebenarnya semua daerah mempunyai basa basi dengan gaya masing-masing, namun Jawa yang paling terkenal. Basa basi yang umum biasanya sekedar menanyakan “Mau kemana?” “Dari mana?” atau mungkin “Mari makan” padahal tidak benar-benar menawarkan makanan. Mungkin bila kita hidup di Eropa atu di luar negeri yang terkenal ‘kaku’, apabila mengajukan pertanyaan serupa mungkin justru akan membuat orang lain tersinggung.  Its none of your business.

Indonesia tetaplah Indonesia. Basa basi sangat lumrah bahkan telah membudaya. Jika tidak basa-basi akan dicap angkuh di masyarakat. Apasih keuntungan dari basa basi?

1. Tidak menyinggung hati
Orang Indonesia sangat berhati-hati dalam berbicara dan sering berbasa basi terlebih dahulu sebelum menyampaikan pendapatnya, terutama apabila berisi kritikan. Dengan basa basi diharapkan tidak ada sakit hati dalam percakapan. Dengan basa basi saja sering ada yang sakit hati, apalagi tanpa basa basi. Langsung dihajar bisa-bisa.

2. Memikat hati
Memang mungkin basa basi terkesat menjilat karena sok sopan. Tapi itulah yang terjadi di budaya kita. Sebelum menyampaikan apa ‘maunya’, berbasa basilah terlebih dahulu sehingga menciptakan image kita yang ramah dan baik. Dengan basa basi, obrolan pasti akan mengalir dan besar kemungkinan lawan bicara sudah tertarik atau bahkan ‘jatuh hati’. Tentu saja apa yang menjadi tujuan kita nanti akan lebih mudah tercapai

3. Mencairkan suasana
Biasanya orang Indonesia menawarkan camilan kepada tamunya sekedar untuk mencairkan suasana dan agar obrolan bisa lebih ‘ngeh’. Tuan rumah pasti akan berkata “Maaf ya cuma ada ini”, sementara tamunya pasti akan menjawab “Tidak usah repot-repot.”

4. Membina hubungan baik
Suatu ketika saya mendapat pelatihan tentang sponsorship. Bahwa menjalin hubungan dengan perusahaan perlu waktu yang tidak sedikit. Pertama-tama dengan menjalin komunikasi, berbasa basi, baru menawarkan kerjasama, dan menanyakan feedback pasca kerjasama berlangsung. Selain sebagai bahan evaluasi, tetap menanyakan mengenai kabar perusahaan akan membina hubungan baik. Jangan sampai menghubungi perusahaan hanya karena ada maunya saja.

Terkadang basa basi yang terlalu kental mempunyai beberapa kerugian, diantaranya:

1. Tidak to the point
Berbicara ngalor ngidul terlebih dahulu kadang membuat bosan. Bahkan makna sesungguhnya yang disampaikan tidak dapat diterima dengan baik atau membingungkan. Tidak to the point umumnya berujung pada membuang-buang waktu dan mengurangi efektifitas berbicara.

2. Sering bohong
Hemm… ini yang berbahaya. Terkadang berbasa basi menuntut kita untuk tidak berbicara jujur, hanya demi tidak menyakiti orang lain.

Lalu bagaimana tips berbasa basi yang baik?
1. Kenali lawan bicara
Apabila lawan bicara orang Indonesia, khususnya Jawa maka wajib hukumnya untuk berbasa basi. Namun berada di Eropa, atau luar negeri, tidak disarankan untuk berbasa-basi dengan cara yang sama seperti di Indonesia. Namun ada juga orang Indonesia yang tidak suka berbasa basi. Berbeda daerah juga berbeda cara basa basinya. Jadi lebih baik apabila basa basinya disesuaikan dengan daerah masing-masing.

2. Basa basi secukupnya
Berbasa-basilah secukupnya. Jangan sampai terkesan menjilat atau berbelit-belit. Jangan terlalu ngalor ngidul ketika ‘intro’ dalam pembicaraan.

3. Jujur
Tidak menyakiti hati boleh saja, harus malahan. Tetapi jangan sampai kita berbohong. Jujurlah dengan penyampaian yang santun. Karena kejujuran yang pahit lebih baik daripada kebohongan yang manis.

Sekian dulu ya pembahasan mengenai budaya basa basi. Smeoga bermanfaat 🙂

Leave a Reply