Dalam Ilusi Kebahagiaan

Pacaran: bukan soal halal haram. Mari kita lihat dari sisi yang berbeda…

Kita, penulis dan pembaca adalah pemuda. Tentu kita sangat akrab akan suatu hubungan yang disebut dengan pacaran. Yang laki-laki menembak perempuan, lalu diterima, dan voila… resmi berpacaran. Saya yakin hampir semua pembaca pernah mengalaminya, setidaknya sekali. Atau kalau pun tidak pernah berpacaran, setidaknya mempunyai gambaran pacaran seperti apa. Baiklah, mari kita sedikit nostalgia dan kembali sejenak menjadi sosok pemuda jomblo yang akan memulai sebuah hubungan.

Tanyakan pada diri kita: what do we seek? Apa yang akan kita cari dalam sebuah hubungan? Kita akan menyebut tentang berbagai alasan yang semuanya bermuara pada satu sebab: kita ingin menerima kebahagiaan.

Hore! Ada seseorang yang mau menjalin hubungan dengan kita sebagai pacar. Hati berbunga-bunga, hidup menjadi cerah, bau-bau harum semerbak memenuhi angkasa. Euforia dan waktu menyenangkan bersama sang pacar membuat kita lupa bertanya sesuatu pada pacar kita: what do you seek? Apa yang kamu cari dalam hubungan denganku? Sang pacar akan menyebut tentang berbagai alasan yang semuanya bermuara pada satu sebab: ingin mendapatkan kebahagiaan. Sama, antara kita dan sang pacar sama-sama ingin mendapatkan kebahagiaan. Well, kita sedang berada dalam euforia awal hubungan. Ketika semuanya menjadi blur, dunia terasa hanya milik berdua.

Euforia itu perlahan menghilang, begitu pula dengan kemudahan yang dirasakan di awal dulu. Mulai ada yang tidak segaris, mulai muncul hal yang berselisih. Di momen ini, perlu upaya yang lebih keras untuk memahami apa yang dimau sang pacar karena seakan apapun yang kita lakukan adalah salah. Di waktu lain, kita berada dalam posisi yang lelah untuk memahami. Tak terasa, hubungan ini menjadi berorientasi saling meminta. Benarkah baru di momen ini? Atau memang dari awal sudah demikian?

Ketika kita ingin mendapatkan kebahagiaan, secara tidak sadar kita menganggap bahwa pacar kita memiliki keharusan untuk memberikan kebahagiaan itu. malangnya, kita dan sang pacar memikirkan hal yang sama. Euphoria pacaran mengaburkan kepekaan hati kita dan menumpulkan akal kita untuk mengerti orientasi saling meminta ini telah lama hadir sejak awal hubungan. Kita baru akan menyadari setelah sekian banyak konflik menerpa dan menggunung dalam hubungan.

Konflik-konflik tersebut akan terus menumpuk sebab kita dan sang pacar saling meminta untuk dimengerti, dipahami, dituruti kemauannya, dan dibahagiakan. Terkadang suatu konflik bisa sampai membuat kita harus berkorban air mata.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah ini yang disebut kebahagiaan? Tentu tidak. Meskipun konflik dalam suatu hubungan adalah keniscayaan, namun kalau lebih banyak konflik dan lebih banyak memberikan pilu di hati… mohon maaf, kita sedang mencari kebahagiaan bukan penderitaan.

Di titik ini, kita mampu merasakan bahwa hal-hal yang kita alami ketika berpacaran bukanlah sebuah kebahagiaan, bahkan kita memasuki suatu keadaan yang bahkan berseberangan dengan kebahagiaan.

Baiklah, kita kembali menjadi si jomblo yang hendak memutuskan untuk berpacaran. Mengapa harus berpacaran untuk memperoleh kebahagiaan? Jawaban untuk pertanyaan ini secara apa adanya adalah bahwa kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan sendirian, sehingga harus ada orang lain yang memberi kita kebahagiaan. Kita memiliki keterbatasan sumber daya untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut.

Menyadari bahwa sumber utama masalahnya adalah diri kita, solusi utamanya pun diri kita. Kita tidak perlu masuk ke dalam lingkaran setan (berpacaran) hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Kita hanya perlu membangun kebahagiaan sendirian.

Bukan. Mampu membangun kebahagiaan sendirian yang dimaksud bukanlah mampu dan tetap waras dan senang meskipun hanya mengurung diri di ruang bawah tanah tanpa ada hubungan dengan manusia lain. Mampu membangun kebahagiaan sendirian adalah kondisi ketika kita mampu bahagia tanpa terlalu terikat dengan sesuatu apapun, baik itu manusia, hewan, maupun game. Pada hakekatnya setiap manusia mempunyai keterikatan dengan yang lainnya dalam konteks manusia sebagai makhluk sosial. Hanya saja, ketika ikatan ini menjadikan hidup kita “hampa” bahkan “hambar” tanpa kehadiran hal tersebut maka di titik inilah kita mulai terlalu terikat. Satu titik bertambah terlalu terikat terhadap suatu hal, satu titik berkurang kebahagiaan kita.

Ketika kita sadar bahwa “meminta” tidak bisa memberikan kita kebahagiaan sehingga kita perlu mempertimbangkan untuk melakukan hal yang sebaliknya, yaitu “memberi”. Membangun kebahagiaan sendirian dimulai dengan memberikan sesuatu untuk hal-hal yang berada di luar diri kita. Memberikan sebuah jejak kontribusi terhadap hal-hal yang kita mampu: keluarga, wilayah tempat tinggal, kampus, kota, negara, komunitas, kemakmuran rakyat, keadilan hukum, hobi, minat bakat, otomotif, lukis, seni pahat, apapun yang dapat dijadikan saluran energi dan daya kita untuk melakukan sesuatu sekecil apapun sebagai bentuk kontribusi. Hal ini akan menjadikan jiwa kita lebih hidup terlebih ketika ada hasil baik setelah kita memberikan sesuatu.

Apabila kita memutuskan untuk membangun kebahagiaan sendirian, kita tidak akan hanya lepas dari siklus iblis yang memberikan kita penderitaan yang dibungkus dalam ilusi kebahagiaan. Kita sejatinya membuka jalan untuk kehidupan baru yang lebih baik. Membangun kebahagiaan sendirian berarti memperluas dunia kita. Dunia dalam hal ini adalah konsep abstrak tempat dimana kita ada dan berkontribusi di dalamnya. Dengan melakukan sesuatu untuk pihak di luar diri kita seperti keluarga, komunitas, organisasi, dan sebagainya kita akan terbiasa untuk memberikan sesuatu untuk orang lain. Akibatnya ketergantungan kita pada suatu hal akan terkikis.

Tak perlu takut bagaimana kehidupan kita nantinya di luar pacaran. Ingat, manusia terikat pada mekanisme 24:26. Apabila kita memilih membangun kebahagiaan sendiri, kita akan dipertemukan dengan orang yang juga membangun kebahagiaannya sendiri. Ketika suatu saat nanti kita dipertemukan kita dan pasangan kita kelak telah sama-sama bahagia, sehingga orientasi saling meminta akan bergeser menjadi saling memberi. Kebahagiaan ini dibagi, orang yang bisa berbagi adalah orang yang memiliki hal tersebut. Kebahagiaan yang dibagi tidak akan berkurang, justru bertambah, bukankah begitu?

“Perempuan yang buruk untuk laki-laki yang buruk dan laki-laki yang buruk untuk perempuan yang buruk. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik.”
– An Nuur : 26

Akhir kata, bangunlah kebahagiaan sendirian. Seperti nasehat klasik bahwa kita harus selalu memantaskan diri, termasuk kepada pasangan kita kelak. Kikis ketergantungan yang keterlaluan terhadap semua hal. Berjuanglah untuk memberi kontribusi kepada sesama.

Dikutip dari:
Dalam Ilusi Kebahagiaan
oleh Baskoro Aris Sansoko

Leave a Reply