[Esai] Realita Angan Pendidikan Kita

Contoh Esai Pendidikan.
Esai ini dibuat untuk memenuhi tugas ujian praktik Bahasa Indonesia.

Realita Angan Pendidikan Kita
Oleh: Novita Eka

“…Mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Kutipan di atas adalah sebuah tujuan mulia bangsa yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945. Bangsa yang cerdas adalah salah satu pondasi kebesaran suatu negara. Tak ada sejarahnya bangsa yang besar yang tidak berinvestasi pada sektor pendidikan.

Berbagai langkah dan cara telah ditempuh pemerintah untuk memajukan pendidikan tanah air. Tak main-main, 20% dana APBN dialokasikan untuk pendidikan. Beasiswa dan pelatihan secara rutin diberikan, baik bagi guru maupun siswa. Perombakan kurikulum pendidikan juga sangat sering dilakukan.

Setelah semua usaha di atas, seharusnya mutu pendidikan kita meningkat pesat. Namun kenyataannya tidak demikian. Dalam survei yang dilakukan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012, Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara peserta dalam hal kemampuan membaca, matematika, dan sains. Hasil ini tentunya menampar dunia pendidikan kita. Di sisi lain, dalam waktu bersamaan, banyak anak bangsa yang mampu meraih medali olimpiade internasional. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Ada apa dengan sistem pendidikan tanah air? Mari menilik sistem pendidikan kita dari sudut pandang berbeda.

Banyak pihak menuding bahwa sistem pendidikan kita yang salah kaprah adalah pemicu utama mirisnya mutu pendidikan tanah air. Berbeda dengan Finlandia yang digadang-gadang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia.  Indonesia seharusnya menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan Finlandia, salah satunya dengan menghapuskan Ujian Nasional (UN).

Desakan kepada pemerintah untuk meniadakan UN kian keras terdengar, terlebih setelah adanya kesemrawutan ujian nasional tahun lalu. Apakah dengan menghapuskan UN semerta-merta masalah akan selesai? Tentu saja tidak. Justru pekerjaan rumah pemerintah akan semakin menumpuk terkait langkah penyetaraan pendidikan di Indonesia.

Tak bisa disangkal bahwa pelaksanaan UN masih sangat jauh dari kata sempurna dan perlu evaluasi di sana-sini. Ujian Nasional yang dikatakan membuat siswa stress dan terbebani nyatanya hanya opini publik semata. Di saat peringkat kemampuan membaca, matematika, dan sains sangat memprihatinkan, Indonesia justru menempati peringkat pertama dalam hal siswa yang paling bahagia di sekolah.

Kemampuan membaca, matematika, dan sains yang sangat rendah membuktikan bahwa rata-rata pelajar Indonesia tidak lebih dari orang-oraang pemalas. Adanya UN yang notabene adalah sebuah kewajiban, tak mampu menaikkan kemauan belajar siswa. Tak dapat dibayangkan jika UN benar-benar dihapuskan, kemampuan membaca bangsa yang sudah rendah akan semakin rendah. Tak tertutup kemungkinan buku-buku yang ada hanya akan tersegel rapi tanpa pernah dibuka. Sungguh ironi.

Kemudian adanya tuntutan agar jam pelajaran dikurangi, sehingga siswa tidak lelah karena lama berada di sekolah juga terus bergema. Hal ini justru tidak akan efektif karena pelajar Indonesia cenderung menghabiskan waktu luang mereka untuk bersenang-senang, nongkrong, dan sebagainya. Akibatnya, tawuran antar pelajar akan sulit dikurangi. Pengurangan jam pelajaran tidak akan melatih siswa dalam mengatur waktu, sehingga siswa akan kesulitan di masa depannya.

Kemampuan pelajar Indonesia yang tidak merata membuat jurang tersendiri di tengah pendidikan kita. Kesenjangan kualitas siswa di Indonesia bukan semata-mata karena pintar dan tak pintar, namun lebih kepada mau bekerja keras dan tak mau bekerja keras. Mereka, peraih medali internasional, mau belajar setiap hari dan memanfaatkan waktu luang mereka untuk membaca dan menggali pengetahuan. Sedangkan mereka yang kerap tawuran, entah apa yang dilakukan setiap harinya.

Pada dasarnya mutu pendidikan yang kacau balau adalah sebuah masalah yang kompleks. Tidak hanya pemerintah yang patut bertanggung jawab, tetapi juga kita. Jika kita mau berkaca, rendahnya kesadaran akan pendidikan justru menjadi faktor yang paling kuat. Kemalasan yang seolah turun temurun malah menjadi sisi lain identitas bangsa.

Tak dapat dipungkiri bahwa mayoritas pelajar Indonesia terlena akan kemajuan teknologi. Padahal dengan hadirnya teknologi seharusnya pelajar Indonesia semakin mudah mengembangkan inovasinya. Fakta di lapangan tidak berkata demikian. Semakin mudahnya akses ke dunia maya dan semakin canggihnya peralatan pembantu pekerjaan manusia menjadikan pelajar Indonesia semakin malas. Bangsa Indonesia sepertinya enggan membalik keadaan dari bangsa yang konsumtif menjadi produktif.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat tak mampu dibendung pemerintah. Begitu pula dengan kemalasan yang akut. Sebesar apapun usaha pemerintah tak akan berarti apa-apa jika para pelajar Indonesia tak mau menghilangkan kemalasan itu dari dalam dirinya.

Sebelum menuntut pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan, alangkah baiknya jika kita memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Kita seharusnya bersikap lebih bijaksana dengan meningkatkan kesadaran diri akan pendidikan dan kemauan membaca, membuang jauh-jauh kemalasan yang menghinggapi.

Lantas, apakah bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar suatu saat nanti? Semua tergantung kita, pelajar Indonesia. Kita yang akan mewujudkannya atau hanya membiarkannya menjadi angan belaka.

Leave a Reply