Menghitung Hilal 1 Syawal 1437 H

Assalamualaikum, Bapak Ibu Kakak Adik Saudara semuanya.

Bagaimana kabarnya? Sudah mudik? Atau masih dalam perjalanan mudik? Semoga dilancarkan ya mudiknya dan selamat sampai tujuan.

Ngomong-ngomong, banyak yang sudah mudik tapi tahu tidak sih kapan lebaran yang sebenarnya? Yakin tanggal 6? Kok bisa? Yuk simak ulasannya…

Kriteria Imkanur Rukyat Khas Indonesia

Penentuan awal bulan pada kalender Hijriyah didasarkan pada revolusi Bulan. Berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan revolusi bumi terhadap matahari. Metode penentuannya ada 2, yaitu Hisab (perhitungan astronomis) dan Rukyat (melihat wujudul hilal). Kedua metode ini sama-sama memiliki dalil yang shahih. Karena itulah sering terdapat perbedaan antara ulama Indonesia karena yang satu berpedoman pada rukyat dan yang lain pada hisab.

Oleh karena itu, LAPAN Bandung sebagai lembaga penelitian dan pemanfaatan antariksa mengkaji ulang secara sistematis data pengamatan hilal di Indonesia untuk mendapatkan kriteria imkanur rukyat khas Indonesia, yaitu:

  1. umur hilal minimum 8 jam.
  2. jarak sudut bulan-matahari minimum 5,6 derajat.
  3. beda tinggi bulan-matahari minimum tergantung beda azimutnya.
    1. Untuk beda azimut sekitar 6 derajat beda tinggi bulan-matahari minimum 3 derajat (tinggi hilal sekitar 2 derajat).
    2. Bila beda azimutnya kurang dari 6 derajat perlu beda tinggi yang lebih besar.
    3. Untuk beda azimut 0 derajat, beda tingginya minimum 9 derajat (tinggi hilal sekitar 8 derajat).

Dengan kriteria imkanur rukyat dari LAPAN ini, kriteria Depag RI disempurnakan dalam dua hal:

  1. Jarak sudut bulan-matahari semula minimum 3 derajat menjadi 5,6 derajat.
  2. Ketinggian hilal minimum tidak lagi seragam 2 derajat, tetapi harus memperhatikan beda azimut bulan-matahari.
    1. Untuk bila azimutnya lebih dari 6 derajat, tinggi minimum 2 derajat,
    2. Untuk azimut kurang dari 6 derajat tinggi minimumnya antara 2 – 8 derajat.

Bingung dengan penjelasan di atas? Begini… Karena ada perdebatan antara mana yang akan digunakan, Hisab atau Rukyat, membuat lembaga yang berwenang (LAPAN dan Depag) membuat suatu jalan tengah yang menggabungkan kedua metode tersebut. Secara pengamatan, Hilal akan terlihat apabila memiliki jarak dengan matahari. Nah, jarak inilah yang menjadi syarat apabila digunakan rukyat, dimana idealnya Hilal sudah dapat terlihat. Sehingga apabila secara Hisab tidak dapat dilakukan, wujud Hilal tidak dapat terlihat karena mendung misal, penentuan awal bulan tetap dapat dilakukan dengan rukyat dengan memperhatikan kriteria di atas.

Kriteria imkanur rukyat yang mengakomodasi hasil-hasil rukyat terdahulu dan memanfaatkan hisab yang akurat merupakan titik temu untuk penyatuan awal Ramadhan dan hari raya di Indonesia. Biarlah NU tetap merukyat dengan teliti dan sungguh-sungguh, dipandu dengan hisab yang akurat. Hasilnya akan digunakan untuk terus menyempurnakan kriteria imkanur rukyat. Biarlah Muhammadiyah dan PERSIS tetap menghisab, asalkan tidak melupakan imkanur rukyat. Tidak mungkin hisab secara murni tanpa kriteria rukyat, karena batasan waktu maghrib dalam menghisab merupakan pengakuan atas rukyat yang hanya bisa dilakukan pada saat maghrib. Hisab dan rukyat bukan lagi sesuatu yang berbeda, tetapi suatu komplemen yang memang seharusnya ada.

Penentuan 1 Syawal 1437 H

Setelah paham ulasan di atas, yuk melihat berapa sih ketinggian Hilal dan kapan kita bisa lebaran…

syawal

Penentuan 1 Syawal 1437 oleh Muhammadiyah

Tanggal 4 Juli 2016

4 juli

Matahari Az: 292o55’54’’ Alt: 0o00’00’’ (apparent)
Bulan Az: 288o26’43’’ Alt: -0o59’45’’ (apparent)
Beda matahari-bulan Az: 3o51’39’’ Alt: -0o59’45’

4 julii

Matahari Az: 293o00’33’’ Alt: 0o00’00’’
Bulan Az: 288o31’12’’ Alt: -1o09’54’’
Beda matahari-bulan Az: 3o51’39’’ Alt: -1o09’54’’

Dapat dilihat pada kedua gambar tersebut ketika matahari terbenam, ketinggian bulan minus, artinya bulan belum memasuki Ijtima'(Fase konjungsi). Bila dilihat dari syarat di atas, tidak memenuhi syarat awal bulan. Jangankan memenuhi syarat, Bulan baru pun belum terjadi. Sehingga, puasa digenapkan menjadi 30 hari. Apabila dilakukan rukyat, seharusnya Hilal tidak akan nampak.

Tanggal 5 Juli 2016

5 juli

Matahari Az: 292o50’09’’ Alt: 0o00’00’’ (apparent)
Bulan Az: 289o21’52’’ Alt: 11o20’05’’ (apparent)
Beda matahari-bulan Az: 3o51’39’’ Alt: 11o20’05’’

5 julii

Matahari Az: 292o54’47’’ Alt: 0o00’00’’
Bulan Az: 289o29’10’’ Alt: 11o48’54’’
Beda matahari-bulan Az: 3o51’39’’ Alt: 11o48’54’’

Dari kedua gambar di atas, dapat dilihat ketika matahari terbenam Bulan memiliki beda ketinggian sekitar 11 derajat dari matahari. Sudah memenuhi syarat, bukan? Dengan beda ketinggian sebesar ini, merukyat akan sangat mudah. Hilal dapat nampak bahkan dengan mata telanjang (apabila tidak mendung). Jadi, malam ini kita bisa takbir dan besok, 6 Juli 2016, sudah lebaran! Yeay!

Menurut prediksi pribadi sepertinya untuk lebaran tahun ini hampir semua ulama di Indonesia sepakat tanggal 6 Juli 2016. Untuk lebih pastinya, tetap kita tunggu hasil dari sidang itsbat ya. Semoga bermanfaat. Semoga mudiknya menyenangkan!

Referensi:
– https://tdjamaluddin.wordpress.com/- Maklumat Muhammadiyah No: 01/MLM/I.0/E/2016 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1437 Hijriah
Sumber gambar: stellarium ver 0.13.0

Leave a Reply