Juni

22 Juni 2016
Menurut kalender astronomi, salah satu hari di bulan Juni ini merupakan Summer Soltice, dimana matahari memiliki deklinasi positif terbesarnya (+23.5 derajat). Penjelasan termudahnya adalah matahari sedang berada di lintang utara yang menyebabkan daerah utara mengalami musim panas dan sebaliknya, daerah selatan mengalami musim dingin. Nah, Madiun ini berada di lintang selatan, sekitar 6 derajat LS. Mungkin karena Madiun berada di titik terjauhnya dari matahari itulah membuat kota ini berada pada titik terdinginnya.

Menurut kalender musim yang biasanya terjadi, seharusnya daerah Indonesia mengalami puncak musim kemarau. (Lihat penjelasannya di mata pelajaran Geografi.) Namun entah bagaimana musim telah berubah, apakah alam sedang bermain-main dengan kemaraunya atau seperti apa, saat ini hujan masih saja turun. Hampir setiap hari malah.

Ketika sampai di tempat ini beberapa hari lalu, aku sedikit tercengang karena Madiun kini menjadi rasa Malang yang dingin berlapis Bogor yang selalu hujan. Terima kasih, Summer Soltice!

Berbicara mengenai dingin dan hujan pada musim kemarau, mengingatkanku pada Sapardi Djoko Damono yang berpuisi tentang Hujan Bulan Juni. Aku tidak mengerti apa yang Sapardi kenang ketika menulis puisi yang begitu mendayu ini. Yang jelas, puisi ini berhasil masuk ke dalam diriku. Seolah-olah Sapardi membuatkannya khusus untuk orang-orang yang butuh ketabahan, kebijaksanaan, kearifan.

Lalu terdengar percikan nada dari pianis Korea Selatan, Yiruma. Lagi-lagi soal hujan. Alunan Kiss the Rain yang sangat kusukai. Hanya nada, tanpa lirik. Hanya nada, namun bisa berkata, terdengar jelas kesenduannya.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Ah, dingin dan hujan ini dan juga puisi Sapardi dan tak lupa ciuman hujan dari Yiruma membuat suasana menjadi melankolis. Membuatku menjadi bebas merefleksikan apa yang terjadi dalam hidup ini, khususnya hidupku di bulan Juni. Mengingat kembali memori-memori lama yang tertinggal jauh di kota sana, di Surabaya. Tentang cita-cita kemudian usaha dan berakhir putus asa. Atau tentang cinta yang membuat jantung berdebar, perut berkupu-kupu, hati berbunga. Mungkin juga tentang rindu-rindu yang selanjutnya hanyut ke kota-kota di sana. Cinta dan rindu yang tak semestinya ada.

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Segala permasalahan rupanya tak mampu tercecer sepanjang 2,5 jam perjalanan. Yahh, sedikit banyak masih ada yang terbawa. Terlebih dengan Madiun yang kini berbeda, dingin dan basah oleh hujan. Ada kalanya menikmati rumah itu sesuatu yang sulit.

Kembali pada puisi Hujan Bulan Juni. Tentang hujan yang tak seharusnya ada. Rindu dan kenangan yang terbawa. Ketabahan, kebijaksanaan, kearifan yang didambakan. Keraguan pun ada. Mungkin Sapardi mengerti, bahwa tak akan ada yang serela hujan untuk menjatuhkan diri, terutama di bulan Juni.

Selama bulan Juni sangat banyak yang telah dirasakan. Semangat. Tersenyum. Cinta. Terharu. Cita-cita. Air mata. Merelakan. Berpasrah.

Tidak ada doa yang ingin lebih aku inginkan selain kota ini secepatnya kembali. Tidak menjadi dingin dan basah seperti saat ini. Madiun rasa Madiun, bukan Malang ataupun Bogor.

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

Madiun,
Juni 2016.
Dengan latar belakang Yiruma – Kiss the Rain

Leave a Reply