Langit dan Sepinya

Aku dan Re. Berdua mengurai kisah yang singkat. Malam itu kami nyata dibawah bintang-bintang. Debur ombak sesekali mengingatkan kami akan dunia. Desahan angin malam terasa menggelitik telinga. Malam tak mengizinkan kami untuk sedikitpun melepas jaket kami atau jarum-jarum dingin akan menusuki tulang.

Malam ini tidak seperti sebelumnya. Tidak sama dengan malam lain yang kami habiskan bersama.

Dingin? Tidak bukan itu. Dingin malam memang selalu meremukkan tulang, bukankah begitu? Sepi? Tidak juga. Kami tak pernah ada masalah dengan sepi. Tapi malam ini terasa berbeda…

Waktu pelan tapi pasti membungkam kami dalam pikiran masing-masing. Hanya ada satu meteor setelah beberapa lama kami disini. Berlalu menyapa kami begitu saja. Tak sempat aku membalas senyumnya, ia lenyap.

“Kau lihat tadi?”tanyaku

“Apa?”

“Meteor, disana tadi,” kataku sambil menunjuk arah Gemini di atasku sedikit ke utara.

“Sekarang mana?”

“Hilang.”

“Secepat itu?”

Aku tertawa kecil. “Meteor itu indah, sesaat lalu tiada. Kalau tidak begitu, mana mungkin hujan meteor selalu dinantikan?”

“Kau sebut ini hujan?”protesnya.

Aku tertawa kecil melihat kekecewaannya. “Sepertinya aku lupa mengingatkanmu agar bersabar. Hujan meteor tidak seperti hujan air yang datangnya keroyokan.”

Lalu kami kembali melihat langit. Tenggelam dalam kesibukan pikiran masing-masing.

Detak detik jam tanganku kadang masih terdengar. Menunjukkan betapa tenangnya malam itu. Hening. Hanya suara ombak yang sedang surut-surutnya. Gelap. Hanya bintang-bintang yang sesekali mengerling nakal. Hening tapi bukan tak ada suara. Gelap tapi bukan kelam.

Aku mengeratkan mantelku. Memeluk tubuhku sendiri dalam gelap. Tak akan kuizinkan gigil merasuk diantara dingin. Tak akan.

“Kalau kamu melihat langit, apa yang kamu pikirkan?”tanyanya waktu itu, tak mau kalah dengan ombak yang dapat memecah sunyi.

“Aku merasa begitu kecil. Sekecil debu. Tidak, mungkin sepersekian kecil debu.”

Kecil.
Sangat kecil.
Nyaris tak berarti apa-apa. Suatu renungan yang membuatku mencintai langit. Suatu renungan mengapa manusia harus selalu menghamba padaNya.

“Tetapi kadangkala aku merasa besar karena seluruh atomku dihasilkan di perut bintang. Akulah alam semesta itu sendiri, Re,”lanjutku.

“Kalau aku merasa sendirian,”ucapnya sambil terpejam.

Aku terduduk karena terkejut. Tak mengerti apakah yang barusan terdengar adalah suatu isyarat tersirat atau kejujuran tersurat. Di sisi lain aku mulai tertarik dengan ucapannya. Aku melihat wajahnya yang damai. “Mengapa?”tanyaku.

“Aku juga tak mengerti. Banyak bintang di sana, di sana dan di manapun. Tapi aku merasa sendirian. Aku merasa sepi.”

Pandanganku masih tertuju padanya. Ternyata sudut pandang kami dalam melihat dunia berbeda tajam. Namun aku tidak bisa menolaknya mentah-mentah. Karena suatu ketika aku pernah juga.

“Kamu tahu tentang Fermi paradox? Begini, bayangkan ada jutaan bintang dalam satu galaksi, ada jutaan galaksi di alam semesta dan ingat bahwa setiap bintang memiliki puluhan planet. Apakah kita sendirian? Aku juga tidak tahu. Aku masih berharap kita memiliki teman di luar sana sehingga kita tidak lagi merasa dunia ini sepi,” ceritaku.

Ia menarik napas dalam. “Terkadang kita perlu sendirian untuk tidak merasa kesepian. Menikmati malam. Bermain gitar. Dengan secangkir kopi. Aku sering seperti itu, kau tau?”ceritanya.

“Aku juga. Hanya saja aku tidak bisa bermain gitar.” Kemudian ia tertawa kecil lalu hening (lagi).

Lucu memang bahwa aku (mungkin juga dia) sering merasa hilang dalam keriuhan. Aku tidak menyukai hal-hal yang berbau keramaian, meskipun sesekali menonton konser namun itu tidak sering. Tetapi aku merasa berteman ketika sendirian, yaitu dengan sepi itu sendiri. Bersama sepi aku bercerita. Sepi mengajakku berpetualang dalam tiga dimensi berbeda. Masa lalu, masa kini, masa depan. Bersama sepi aku melakukan tiga hal berbeda. Mengenang, mengerjakan, merencanakan. Sepi, adalah teman baikku.

“Lusa aku berangkat,”ucapnya singkat. Membuat darahku berdesir hebat. Membuatku tiba-tiba terasa kosong. Aku tak pernah menyangka angin malam dapat terasa sebegitu menyayatnya ketika melewati hati yang kini hilang setengah isinya.

Aku tertunduk. Akhirnya ini akan terjadi. Ketika ketakutan-ketakutan itu menjadi nyata. Jarak langit dan bumi akan lebih dekat dibanding mata kami yang saling menatap. Horizon didepanku, batas nyata langit dan bumi tak dapat lagi kubedakan. Bintang dan lampu kota bersatu, saling beradu padu. Sedekat itu. Sementara Bali-Adelaide ada pada lembar berbeda di peta, sejauh itu.

Dalam dingin, mataku terasa hangat. Aku melihat, tapi tak ada yang benar-benar kulihat. Bayang-bayang bulan yang mulai terbit tak mampu memberi keindahan yang terlanjur hilang. Mungkinkah seperti ini yang dikatakannya tentang semesta dan sepinya?

“Bukankah kita bisa menggelar tikar di lahan sempit lalu berpiknik menikmati langit ? Langit yang kita pandang sama, bukan? Luas dan tak terbatas. Namun aku akan selalu menemukanmu. Disana.” Ia menunjuk sebuah bintang terang di arah barat daya. Yang ia tunjuk adalah aku, bintangku.

Begitukah cara kita melepas rindu nantinya? Menikmati kesenangan dalam keheningan. Menemani sunyi dan mengagumi malam. Menyendiri untuk tidak merasa sepi. Melukis sajak di dinding langit. Saling bercengkrama lewat suara angin. Atau berkirim pesan melalui bintang malam. Begitukah pada akhirnya nanti, Re?

“Ada hujan bintang lagi di awal tahun. Mari kita lakukan, di tempat berbeda, hal yang sama.”

Bintang jatuh. Indah. Namun sesaat. Itulah yang membuatnya menarik. Jika ingin melihatnya, relakan ragamu untuk memberi ruang pada dingin dan gigil. Cukup adil, bukan? Sama sepertimu, Re.

Kini aku tahu mengapa malam ini terasa berbeda.

Leave a Reply