Senja dan Cita-cita

Sudah lama sekali hingga aku menulis lagi.

Tulisan ini aku persembahkan untuk seseorang yang jauh di seberang sana. Seseorang dengan hidupnya yang sejujurnya, aku tidak tahu apa-apa. Seseorang itu katanya menyukai senja.

Ngomong-ngomong soal senja, aku tidak tahu mengapa orang-orang begitu mudah dibuat jatuh cinta oleh senja. Bagiku senja hanyalah suatu penunjuk waktu kualitatif. Tidak ada yang menarik soal senja.

“Senja mengajarkanmu keikhlasan,” ucap suara yang menginterupsiku menulis.

Aku tersenyum separuh. “Kalau bicara ikhlas, tidak ada yang lebih ikhlas dari hujan yang rela menjatuhkan diri.”

“Kamu seperti hujan,”katanya.

Kali ini aku tersenyum penuh. Sekaligus mengernyit benar.

Aroma teh menguar dari kepulan asap di cangkir dalam genggamannya. Sesaat kemudian salah satu cangkir berpindah ke tanganku, membuat aromanya lebih kuat untuk dihidu.

Ia menyesap tehnya. “Iya, kamu seperti hujan, menghidupkan. Tapi ada kalanya menghancurkan.”

Dan aku masih mengernyit.

“Kamu menghancurkan pertahanan perasaanku.”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Apaan sih? Cheesy banget tau!”

Dia juga tertawa. “Inilah yang ku sebut menghancurkan. Bagaimana tidak? Aku sudah berusaha, tapi tidak kamu hargai.”

Eh?

“Bercanda kok.” Ia menyengir menampakkan giginya yang rapi.

Lalu kami kembali menyesap teh. Mumpung minumannya masih panas. Mumpung cuaca makin dingin. “Boleh tanya tidak?”ucapnya meminta izin yang segera aku balas dengan anggukan.

“Kenapa kamu mau jadi penulis?”

Mataku menerawang ke atas, tempat awan mulai bergulungan. “Karena aku ingin berbicara tanpa bersuara. Barangkali sesekali aku ingin menyentuh orang lain tanpa perlu bertatap muka. Terdengar retoris ya?”

Dia manggut-manggut. “Mungkin iya, tapi tidak juga. Menurutku itu kalimat paling sederhana untuk mengekspresikan dirimu yang kompleks.”

Aha. Setiap manusia itu kompleks dengan caranya sendiri-sendiri. Teratur dengan komposisinya masing-masing. Juga kacau dengan keruwetannya yang tak sama.

Kita tidak pernah tau bagaimana manusia sebelum menjadi manusia itu sendiri, bukan begitu?

“Berarti cita-citamu terwujud ya?”tanyanya. Aku tersenyum sebagai jawaban.

“Bagaimana rasanya berhasil mewujudkan cita-cita?”tanyanya lagi.

“Jawaban klasik yang biasa ada di acara motivasi adalah aku bahagia. Jawaban sebenarnya tidak sesederhana itu.”

“Aku tahu. Maka beritahu aku dengan sederhana.”

Kemudian mulailah aku berkisah. Kali ini tidak melalui tulisan. Tentang orang tuaku yang menginginkan diriku menjadi seorang pengajar. Tentang betapa mulianya menjadi guru. Tentang betapa berprospeknya menjadi dosen. Tentang pekerjaan sejenis yang terlihat leha-leha tapi dapat upah yang dirasa berharga.

Tidak ada yang salah, hanya aku yang tak merasa sejiwa. Lalu aku melepas semua cita-cita mulia orang rumah itu. Meninggalkan semua ekspektasi yang ditujukan padaku. Juga menanggalkan beban orang tua terhadap diriku.

Karena aku punya cara lain untuk menjadi seorang pengajar. Bukan memakai papan tulis dan kapurnya. Bukan juga melalui materi beserta ujiannya. Tapi melalui kata. Yang didalamnya terserak kisah nyata, kadangkala tercecer pengetahuan, dan sesekali terselip nasihat.

“Bukankah kita tidak perlu membatasi diri dalam belajar dan mengajar?”tanyaku pada akhirnya.

“Pantas kamu suka hujan,”celetuknya.

“Apa hubungannya?”

“Karena kamu manifestasi hujan. Begitu rela untuk jatuh.”

Aku menyesap tehku yang tak hangat lagi. Sebenarnya untuk menyembunyikan senyumku.

“Kamu sendiri bagaimana dengan cita-citamu?”

Ia tersenyum simpul. “Aku sudah mencapainya.”

“Sudah?”tanyaku memastikan.

“Iya, sudah.”

Matanya tak berbinar. Membuatku mengernyit tak paham.

“Dulu sewaktu kecil orang-orang bertanya aku ingin jadi apa. Bukan dokter, bukan guru, bukan juga artis. Aku menjawab analis. Mereka tak mengerti apa itu dan aku juga malas menjelaskan. Jawabanku sama semenjak duduk di akhir bangku sekolah dasar hingga 6 tahun kemudian.

“Hingga akhirnya aku mengenal langit. Aku ingin lebih dekat dengan bintang-bintang. Sayang, kesempatan untuk kesana tak bisa aku rasa. Mereka bilang prospeknya kecil, percuma. Aku mencoba logis dengan kemungkinan dan ketidakpastian. Realistis bahwa sepertinya aku tidak bisa menyentuh langit.

“Lalu aku terombang-ambing mengikuti arus. Tanpa ambisi, tanpa cita-cita aku ingin apa. Untung saja tak ada gelombang besar hingga aku tidak terbalik. Dan tanpa sengaja aku singgah di cita-cita lamaku.

“Kini setiap aku lelah, aku selalu bilang pada diri sendiri bahwa aku harus berbahagia karena cita-citaku menjadi nyata. Lalu apa? Aku terus bertanya-tanya, inikah yang dulu aku inginkan? Inikah yang sekarang aku inginkan?”

Ia menghela napas. Sedangkan aku menahan napas. Jadi ini yang membuat segala sesuatu darinya terasa berbeda. Ia dengan kemelut pikirannya sendiri. Tersembunyi dalam ruang yang hanya ia yang tahu letaknya.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Menikmati yang telah digapai, merelakan yang tak tercapai.”

Aku tahu bukan usahanya yang kurang. Atau doanya yang tidak dikabulkan. Hanya masalah keadaan yang hanya ia yang merasakan. Aku percaya kisahnya barusan hanya sampul dari apa yang telah ia perjuangkan.

“Karena cita-cita ada untuk diperjuangkan atau diikhlaskan,”sambungnya kemudian.

Ia tersenyum. Aku tersenyum.

“Katamu tadi sedang menulis untuk temanmu?” Pertanyaannya mengingatkanku seketika pada tulisan di layar.

“Temanku berulang tahun, bisakah kamu memberi ucapan selamat padanya?”pintaku.

Ia mengambil alih papan ketikku. Aku memperhatikannya. Melamunkannya yang tepat di depan mata. Senja yang ia ucapkan nyatanya ada dalam dirinya.

Begitulah. Tulisan ini kuakhiri hingga tamat.

Kepada kamu yang di sana, selamat ulang tahun. Semoga kamu bahagia dengan cita-cita yang kamu punya.

Dan kepada senja, ternyata aku bisa jatuh cinta.

***

Hai, yang di sana
Seseorang yang tak ku kenal namanya

Berjanjilah kamu akan
Lebih cerdas dari yang kamu pikir
Lebih berani dari yang kamu percayai
Lebih kuat dari yang kamu lihat

Selamat ulang tahun. Semoga semesta senantiasa mendukungmu.

Senja,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *