Senja

Senja bukan tak seindah fajar. Mereka menyuguhkan pertunjukan yang berbeda, pengalaman yang tak pernah sama.

Bermula dari waktu yang terus bergulir ke arah barat. Semburat jingga mulai menghiasi langit. Horizon terbentang luas. Lampu-lampu kota sekali dua kali mengerling menyapa, namun tak terburu-buru untuk mengucapkan selamat malam. Gradasi warna membumbung dari cakrawala merah hingga biru sempurna di atas kepala. Lengkungan-lengkungan awan yang bergumul seperti kapas ikut menyemarakkan pawai burung yang melintas.

Aktor utama kita baru muncul dari balik awan. Cahayanya menyapu tanah Surabaya dari arah barat. Sedikit menyilaukan mata, namun siapa yang akan perpaling darinya? Ah, wajah mentari tak lagi sama. Ia telah bertambah besar. Sekiranya dua kali ukuran semula dan melonjong di bagian tengahnya. Ia turun perlahan, namun lebih cepat dari waktunya di atas kepala. Sedikit demi sedikit, matahari membenamkan dirinya, merelakan tubuh gagahnya ditelan oleh bangunan menjulang. Lalu lenyap. Dan seketika kota lebih berkilauan dari sebelumnya.

Senja. Selamat malam, siang. Selamat pagi, petang.

Aku menikmatinya, Tuhan. Tak ada yang lebih sempurna dibanding lukisanMu di kanvas alam semesta. Ketika paragraf-paragraf ini ditulis berlebihan, bukan aku, tapi memang keindahanMu yang berlebihan. Semoga ketika aku melihat senja kembali, di sini, suatu saat nanti, doa-doa yang terpanjat hari ini ikut menyentuh hati Illahi bersama mentari yang selalu kembali.

Senja dari lantai ke-tujuh
Juni, 2016

Leave a Reply