Belajar Tentang Rela

Izinkan aku sedikit bercerita mengenai perhelatan hatiku yang kini aku bahagia sempat merasakannya.

Waktu itu ada yang menanyakan ingin menjadi apa aku ketika melanjutkan di organisasiku. Belum tahu, tergantung dimana aku dibutuhkan nantinya, jawabku retoris. Kemudian orang didepanku berkata kurang lebih seperti ini: “Baguslah kalau kamu ingin berkontribusi tanpa mengharapkan jabatan. Kita membutuhkan orang-orang seperti itu.”

Seketika aku merinding. Aku merasa tertohok dengan ucapan itu. Karena waktu itu aku mempunyai ambisi: menjadi ketua. Aku berfikiran ketika aku menjadi pemegang jabatan nantinya, aku bisa berkontribusi dan merubah sistem yang ada. Sedikit banyak, ambisi itulah yang berperan menjadikanku sampai pada tahap ini.

Ucapan orang tadi terngiang setiap waktu. Membuatku terpaksa menanyakan kembali pada diriku, benarkah ambisiku? Apa yang sebenarnya aku inginkan? Apakah aku memang menjadi orang yang dibutuhkan atau hanya perasaanku semata? Apakah organisasiku akan merasa kehilangan aku atau justru akan baik-baik saja tanpa aku?

Namun sampai saat ini aku tak kunjung mendapat jawabannya dan aku masih berusaha mencari jawabannya.

Aku mendapat bisikan setan, bukankah akan sia-sia bila aku melanjutkan di sini tanpa menjadi yang nomor satu? Di tempat ini, ibarat rumah reyot yang tak punya branding. Mau jadi apa aku nanti? Merubah pun tak bisa bila tak ketua. Kesempatan juga tak datang dua kali bukan? Bolehlah aku belajar dan mencoba hal yang baru.

Ya. Aku tak mau munafik untuk tidak mengakui aku pernah seegois itu. Hingga suatu ketika aku mendapat bisikan, kali ini bisikan malaikat entah dari mana, yang membuatku belajar merelakan pada akhirnya. Nyatanya ini tak main-main bila hanya untuk mencoba. Nyatanya jabatan selalu menjadi sesuatu menggiurkan dan selalu bisa membelokkan nurani.

Waktu demi waktu, aku mencoba berdialog dengan diriku. Mengumpulkan sejuta keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri. Bila memang aku dibutuhkan, tentunya akan ada perubahan yang terjadi karena aku. Entah itu terlihat atau tidak, aku tidak peduli. Bila memang di sinilah tempatku berkontribusi, tentu aku tak boleh pamrih.

Ketika suatu saat nanti amanah itu memang ada, aku tak akan menolaknya karena ini salah satu bentuk perjuanganku. Namun jika tidak, tentu aku akan baik-baik saja. Aku masih bisa merubah sesuatu yang memang harus dirubah tanpa menjadi seorang pemegang jabatan. Aku percaya, amanah tidak akan salah memilih tuannya.

Aku mencintai organisasi ini, tanpa tapi, tanpa kecuali. Ternyata hanya itu alasanku untuk tetap berada di sini lalu berkontribusi, tanpa tapi, tanpa kecuali, tanpa jabatan pasti.

Bagi yang berusaha merelakan, dan belum sanggup merelakan ‘jabatan’, coba tanyakan kembali pada diri. Apakah benar benar mencintai organisasi? Apakah benar-benar dibutuhkan atau hanya perasaan saja? Apakah benar-benar ingin berkontribusi? Apakah benar-benar tanpa tapi dan tanpa kecuali, termasuk tanpa jabatan pasti?

Tidak mudah untuk membuat rela itu nyata. Pergolakan hati, kebimbangan, dilema akan selalu menyertai. Pun sampai sekarang seringkali aku meragukan ikhlas itu apa. Aku merasakannya. Aku masih meragukan diriku sendiri. Ketika suatu saat nanti keputusan itu keluar, maka itulah tempat dimana aku memang dibutuhkan dan di situlah tempatku berada.

Aku tak akan menyesal bila berada di tempat yang memang semestinya aku ada.

Yang belajar tentang rela,
Novita Eka