Pemimpin Ideal?

Ketika membaca suatu artikel mengenai pemimpin ideal, aku jadi teringat pembicaraan beberapa bulan lalu dengan seorang mahasiswa FK. Ia bercerita bahwa ia pernah diceritakan tentang percakapan seorang Raja dan Pangeran.

Sang Raja yang sudah hendak mangkat bertanya kepada putera mahkotanya, “Anakku, apakah kamu sungguh-sungguh ingin menjadi seorang raja?”

“Iya, Ayahanda. Saya ingin menjadikan kerajaan ini lebih makmur dan sejahtera,” jawab Pangeran dengan yakin.

“Ketahuilah, Anakku, setiap seorang raja pasti akan merasakan neraka. Tidak bisa tidak.” Pangeran ingin bertanya, namun urung karena sepertinya ucapan sang Raja belum titik. “Ketika negeri ini dilanda kekeringan panjang lalu aku mengadakan doa meminta hujan lalu Tuhan berbaik hati menjatuhkan airnya, rakyat akan bersuka cita menyambut hujan. Petani-petani akan kembali berbahagia. Namun pembuat kerupuk di sudut sana akan menangis karena tak bisa berjumpa dengan matahari, kebahagiaan mereka telah berakhir. Aku akan dihukum untuk rakyatku yang telah aku susahkan.”

“Tidak ada satupun kebijakan paling bijaksana yang bisa mengakomodasi semua kepentingan rakyatnya. Selalu ada yang akan kau susahkan di setiap keputusan terbaik yang kau ambil. Sebentar lagi aku akan merasakan neraka, Anakku.”

Pangeran tidak mampu berkomentar apa-apa. Betapa takut ia akan panas neraka, seperti manusia biasa, rakyatnya. Betapa ia takut akan keputusan-keputusan yang akan ia ambil sebagai pemimpin yang mungkin malah menambah kesengsaraan rakyatnya. Lalu ia menjadi ragu dan gamang. Ah, andai ada tawaran untuk mundur.

“Bagaimana, Pangeran? Apakah kau masih berkenan menjadi Raja?”

“Ya, Ayahanda,” Pangeran tersenyum. Betapapun takutnya ia, ada rakyat yang menunggu disejahterakan. Ada keputusan-keputusan yang menunggu untuk diambil. Ada banyak hal yang menanti untuk dibuat menjadi lebih baik.

Menjadi seorang pemimpin nyatanya bukan sesuatu yang mudah. Ada banyak kepentingan berbeda yang harus ia tengahi. Setelah berfikir dengan melihat setiap sisi, masih saja ada yang tidak puas dan menghujat. Tidak ada faktor penentu keidealan seorang pemimpin yang sama antara satu orang dengan orang lain, bahkan dengan pemimpin itu sendiri. Janganlah kita asal menjudge dan asal menuntut. Bukankah lebih baik kita membantu pemimpin kita?

Surabaya,
Desember 2016

Leave a Reply