Tua, Sudah GarisNya

Sore itu kami duduk di depan TV dan berbincang santai, aku dan ibu kosku yang sudah seperti nenek sendiri. Sambil menyantap macaroni schottel buatanku yang hampir tak ada rasanya, beliau menceritakan sedikit tentang masa mudanya.

Dulu, beliau dan Bapak, sebutannya untuk suaminya yang telah meninggal, sangat suka traveling apalagi wisata kuliner. Beliau sangat jarang memasak untuk sore hari, karena suka makan diluar. Suka njajan di restoran, icip-icip makanan yang unik dan enak, katanya.

Tak jauh berbeda denganku sekarang ini. Kadang suka makan di luar, kadang berhedon ria. Kemudian aku berfikir meskipun berbeda titi mangsanya, masa muda yang kami lewati tak jauh beda. Berarti masa depan yang akan kujalani juga tak akan jauh berbeda.

Menua.

Menjadi lemah.

Takdir setiap manusia untuk menua di setiap detiknya memang tak bisa disangkal. Namun terkadang ada suatu ketakutan dalam hal ini. Takut tak bisa apa-apa. Takut hanya bisa merepotkan. Takut suatu saat nanti akan kesepian.

Waktu seakan terpantul, direfleksikan oleh suatu cermin, bahwa masa lalu beliau adalah masaku saat ini dan masa saat ini beliau adalah masa depanku. Manusia memang melakukan tugasnya sendiri-sendiri berdasarkan waktunya. Waktu kecil dirawat. Waktu dewasa merawat. Waktu tua, tinggal pasrah ada yang mau merawat atau tidak.

Sepertinya tak perlu lama-lama mengkhawatirkan masa tua, meskipun kadang takut juga. Namun, bukankah seharusnya kita lebih takut pada apa yang kita lakukan hari ini? Bagaimana jika hari ini tidak melakukan apa-apa? Bagaimana jika hari ini tidak melakukan yang bermanfaat?

Ah,
Waktu memang akan terus melaju sampai satu-satunya Yang Punya Waktu menghentikannya, atau menghentikan kita. Bukankah kedua hal itu rahasia terbesarNya?
Berdoa saja semoga kita tidak hanya menua tetapi akan menjadi tua. Setiap insan pasti menua, tetapi belum tentu menjadi tua. Karena menjadi tua itu anugerah…