Aside

W.a.k.t.u

Dunia ini kompleks dalam kesederhanaan yang sepasang-sepasang. Selalu ada tesis dan antitesis. Ada partikel dan antipartikel. Sampai yang paling klasik dalam kehidupan. Ada pertemuan dan perpisahan.

Berbicara mengenai perpisahan, ada saatnya berpisah tanpa melakukan salam selamat tinggal. Bukan pula perpisahan karena jarak yang dapat terukur.

Pelan tapi pasti waktu akan mengubah segalanya. Mempertemukan dua orang dengan tiba-tiba. Lalu mendekatkannya. Kemudian waktu mengambil alih kembali. Jarak imajiner perlahan-lahan membukan sebuah jurang. Hingga tak ada yang mampu membuat jembatan penghubung. Akhirnya benar-benar terpisah.

Waktu membuat segalanya menjadi tak lagi sama. Dulu ada yang dekatnya seperti perangko dan amplopnya. Lalu sekarang untuk say “Hi!” saja tidak pernah. Padahal hanya ada udara sebagai pembatas mereka. Hmm…

Ah, aku jadi bernostalgia.

Waktu sebenarnya memberi sebuah pembelajaran dari setiap orang yang dipertemukan. Hanya saja butuh ketajaman mata hati dan pikiran jernih untuk menyadari pelajaran apa yang diberikan. Tidak ada yang sia-sia dari setiap pertemuan.

Waktu pula yang bertanggung jawab akan apa yang terjadi selanjutnya. Jika perpisahan kemarin menyakitkan, waktu akan bertanggung jawab mengobatinya. Jika perpisahan kemarin tanpa salam, siapa tau waktu akan mempertemukan kembali dalam kesempatan yang berbeda. Dengan pembelajaran yang berbeda pula.

Pertemuan dan perpisahan adalah sebuah keniscayaan.

Februari, 2017

Sisi Lain Mahasiswa Tak Tau Diri nan Hedon

Hai, Pembaca!

Akhir-akhir ini banyak postingan yang menyentil berlalu-lalang di beranda. Tentang isu Pilkada DKI yang heboh, menurunnya toleransi kebhinekaan, hingga curhatan mengenai kebijakan pemerintah yang katanya ‘ngaco’. Namun ada satu selipan posting yang benar-benar mencubit diriku. Yaitu tentang beasiswa, terutama bidikmisi.

Kata temanku yang pandai ekonomi, kemiskinan itu seperti lingkaran setan. Kalau miskin tidak bisa bayar sekolah. Kalau tidak sekolah tidak bisa bekerja dan dapat uang. Tidak punya uang berarti tidak bisa memenuhi kebutuhan. Kalau tidak bisa memenuhi kebutuhan berarti miskin. Dalam upaya pengentasan kemiskinan, harus ada salah satu rantai yang diputus. Salah satunya adalah pendidikan. Spesifik dalam hal ini adalah melalui bidikmisi.

Bidikmisi adalah beasiswa yang diberikan pemerintah untuk mahasiswa kurang mampu. Kuota bidikmisi selalu bertambah setiap tahun dengan harapan semakin banyak pemuda yang diharapkan dapat mengenyam pendidikan tinggi dan memutus kemiskinan. Trilyunan rupiah per tahun digelontorkan pemerintah demi membiayai aset bangsa yang satu ini.

Namun, banyak penerima beasiswa ini yang dinilai tidak tahu diri dengan memanfaatkan uang beasiswa yang diterimanya dengan tidak semestinya.

“Anak bidikmisi mah enak, bisa tiap hari hedon. Tinggal nunggu duit turun setiap bulan.” Continue reading

Pemimpin Ideal?

Ketika membaca suatu artikel mengenai pemimpin ideal, aku jadi teringat pembicaraan beberapa bulan lalu dengan seorang mahasiswa FK. Ia bercerita bahwa ia pernah diceritakan tentang percakapan seorang Raja dan Pangeran.

Sang Raja yang sudah hendak mangkat bertanya kepada putera mahkotanya, “Anakku, apakah kamu sungguh-sungguh ingin menjadi seorang raja?” Continue reading

Bisma dan Amba, Romantika Kisah Mahabharata

the_death_of_dewi_amba_by_13_08_97-d5cot10

Death of Amba

Dari sekian banyak novel yang saya baca dan curhatan yang saya terima, belum ada kisah cinta se-epic, sepelik, dan serumit Bisma dan Amba dalam epos Mahabharata. Kisah Mahabharata terbagi menjadi 18 kitab yang sering disebut Astadasaparwa (Asta berarti 8 dan Dasa berarti 10). Kisah Bisma dan Amba ada di kitab ke-1 (Adiparwa) dan kitab ke-6 (Bhismaparwa) dari Astadasaparwa.  Ringkasnya kurang lebih begini: Continue reading