Sebuah Sisi Lain: Rokok

Hai, pembaca…

Bagaimana kabarnya saat ini? Sudahkah kita menemukan hikmah dari suatu hal hari ini?

Kalau saya, bukan hikmah yang saya temukan hari ini. Hanya suatu sudut pandang yang berbeda mengenai suatu hal. Yap, tentang ROKOK.

Saya tidak akan mengatakan rokok adalah suatu hal yang baik. Tidak sama sekali. Meskipun saya suka bau cengkeh yang biasanya identik dengan rokok, saya termasuk squad pembenci rokok. Bagi saya, rokok adalah benda kecil pengganggu kesehatan tubuh manusia. Sudah jelas bahwa rokok memiliki ratusan zat beracun yang merusak tubuh. Rokok juga menyebabkan kanker alias kantong kering. Apalagi bagi orang-orang yang bukan kalangan borjuis.

Itu pandangan tentang rokok bagi saya. Bagi orang lain belum tentu demikian.

Continue reading

Selayang Pandang SDGs

Jika melihat kembali headline berita tahun 2015, beberapa singkatan-singkatan menjadi familiar. Yang paling banter terdengar adalah AEC (Asean Economic Community) atau MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Mungkin juga ada yang sempat mendengar tentang SDGs. Informasi mengenai SDGs relatif sedikit jika dibandingkan dengan AEC, padahal informasi yang terkandung dalam SDGs sangat banyak dan kompleks. Apa itu SDGs? Continue reading

Aside

W.a.k.t.u

Dunia ini kompleks dalam kesederhanaan yang sepasang-sepasang. Selalu ada tesis dan antitesis. Ada partikel dan antipartikel. Sampai yang paling klasik dalam kehidupan. Ada pertemuan dan perpisahan.

Berbicara mengenai perpisahan, ada saatnya berpisah tanpa melakukan salam selamat tinggal. Bukan pula perpisahan karena jarak yang dapat terukur.

Pelan tapi pasti waktu akan mengubah segalanya. Mempertemukan dua orang dengan tiba-tiba. Lalu mendekatkannya. Kemudian waktu mengambil alih kembali. Jarak imajiner perlahan-lahan membukan sebuah jurang. Hingga tak ada yang mampu membuat jembatan penghubung. Akhirnya benar-benar terpisah.

Waktu membuat segalanya menjadi tak lagi sama. Dulu ada yang dekatnya seperti perangko dan amplopnya. Lalu sekarang untuk say “Hi!” saja tidak pernah. Padahal hanya ada udara sebagai pembatas mereka. Hmm…

Ah, aku jadi bernostalgia.

Waktu sebenarnya memberi sebuah pembelajaran dari setiap orang yang dipertemukan. Hanya saja butuh ketajaman mata hati dan pikiran jernih untuk menyadari pelajaran apa yang diberikan. Tidak ada yang sia-sia dari setiap pertemuan.

Waktu pula yang bertanggung jawab akan apa yang terjadi selanjutnya. Jika perpisahan kemarin menyakitkan, waktu akan bertanggung jawab mengobatinya. Jika perpisahan kemarin tanpa salam, siapa tau waktu akan mempertemukan kembali dalam kesempatan yang berbeda. Dengan pembelajaran yang berbeda pula.

Pertemuan dan perpisahan adalah sebuah keniscayaan.

Februari, 2017

Sisi Lain Mahasiswa Tak Tau Diri nan Hedon

Hai, Pembaca!

Akhir-akhir ini banyak postingan yang menyentil berlalu-lalang di beranda. Tentang isu Pilkada DKI yang heboh, menurunnya toleransi kebhinekaan, hingga curhatan mengenai kebijakan pemerintah yang katanya ‘ngaco’. Namun ada satu selipan posting yang benar-benar mencubit diriku. Yaitu tentang beasiswa, terutama bidikmisi.

Kata temanku yang pandai ekonomi, kemiskinan itu seperti lingkaran setan. Kalau miskin tidak bisa bayar sekolah. Kalau tidak sekolah tidak bisa bekerja dan dapat uang. Tidak punya uang berarti tidak bisa memenuhi kebutuhan. Kalau tidak bisa memenuhi kebutuhan berarti miskin. Dalam upaya pengentasan kemiskinan, harus ada salah satu rantai yang diputus. Salah satunya adalah pendidikan. Spesifik dalam hal ini adalah melalui bidikmisi.

Bidikmisi adalah beasiswa yang diberikan pemerintah untuk mahasiswa kurang mampu. Kuota bidikmisi selalu bertambah setiap tahun dengan harapan semakin banyak pemuda yang diharapkan dapat mengenyam pendidikan tinggi dan memutus kemiskinan. Trilyunan rupiah per tahun digelontorkan pemerintah demi membiayai aset bangsa yang satu ini.

Namun, banyak penerima beasiswa ini yang dinilai tidak tahu diri dengan memanfaatkan uang beasiswa yang diterimanya dengan tidak semestinya.

“Anak bidikmisi mah enak, bisa tiap hari hedon. Tinggal nunggu duit turun setiap bulan.” Continue reading

Pemimpin Ideal?

Ketika membaca suatu artikel mengenai pemimpin ideal, aku jadi teringat pembicaraan beberapa bulan lalu dengan seorang mahasiswa FK. Ia bercerita bahwa ia pernah diceritakan tentang percakapan seorang Raja dan Pangeran.

Sang Raja yang sudah hendak mangkat bertanya kepada putera mahkotanya, “Anakku, apakah kamu sungguh-sungguh ingin menjadi seorang raja?” Continue reading