Backpacker ke Singapura (Part 1)

​Halooo…
Kali ini saya ingin bernostalgia mengenai jalan-jalan saya ke Singapura beberapa waktu lalu yang sekaligus menjadi kali pertama saya menapakkan kaki di luar Indonesia.
Acara jalan-jalan gratis ini disponsori oleh International Office ITS. Jadi tujuan utamanya adalah meningkatkan international exposure terutama untuk mahasiswa golongan kurang mampu melalui kegiatan Studi Ekskursi. Thanks very much for the money and opportunity given. Hehe
Awalnya semua akomodasi dan semacamnya itu diatur oleh panitia. Namun karena keteledoran saya yang lupa mengirim paspor, alhasil saya harus mencari akomodasi sendiri sesuai dengan budget yg diberikan.
Kalau pembaca penasaran tentang jalan-jalan ke Singapura ala backpacker dengan bugdet minim, keep on reading

Hari 0
Saya berangkat dari Surabaya ke Singapura dengan pesawat Jetstar. Tiket berangkat ini saya beli dari website Jestar seharga 499.000! Gila, lebih murah dari Surabaya-Jakarta boss! Pantengin aja web Jetstar, sering banget ada promo. Sayangnya promonya berbatas waktu, bahkan hanya hitungan jam. Waktu itu saya harus ke ATM jam 12 malam demi membayar tiket. Tapi worth it lah ya dengan harganya.
Fasilitas yang didapat standar maskapai ekonomi tanpa bagasi dan makan. Hanya dapat bagasi kabin seberat max 7 kg.
Tips: Saran saya pesan tiket pulang sekalian dalam satu invoice. Karena biasanya harga pulang sama dengan harga berangkat. Double murahnya! Selain itu kalau di Jetstar tidak bisa beli tiket keberangkatan Singapura pakai rupiah, jadi harus pakai Dollar. Ribet…
Tips: Kalau harga tiba-tiba naik di tr*vel*ka, jangan keburu panik dulu. Cek dulu fasilitasnya. Saya pernah dapat harga 1 jutaan, eh ternyata sudah termasuk bagasi 20 kg. Padahal saya tidak berniat membeli bagasi. Esoknya saya lihat harga sudah normal tanpa bagasi. Mungkin itu salah satu trik marketing agar kita terburu-buru membeli tiket sebelum tambah naik lagi.
Tips: Perhatikan soal larangan di barang di Singapura, terutama barang liquid. Setahu saya tidak boleh membawa barang berisi cairan dengan wadah lebih dari 100 ml. Jadi kalau bisa bawa yang travel size ya dan jangan bawa barang-barang yang tidak perlu.
Hari 1
Saya berangkat sekitar jam 8 malam dan sampai di sana hampir jam 1 pagi. Karena angkutan umum sudah tidak ada yang beroperasi, kami putuskan untuk menginap di bandara.
Kami harus kucing-kucingan dengan petugas bandara, karena sebenarnya fasilitas yang disediakan itu untuk yang mau berangkat bukan untuk yang baru sampai. Kami menyiasatinya dengan berpencar dan tidur dalam posisi duduk. Capek? Banget. Tapi ya mau gimana lagi.
Setelah ayam berkokok dan pagi menjelang (mana ada ayam berkokok di Changi), kami mencari pengganjal perut. Dengan budget yang pas-pasan kami berusaha mencari makan di bandara dengan mencari Staff Canteen. Harganya lumayan murah dibandingkan dengan makanan yang dijual di luar-luar. Menunya juga beragam dan tentu saja banyak pilihan HALAL.

Contoh menu di Staff Canteen Changi

Lalu kami menggunakan skytrain untuk menuju ke T2, karena MRT hanya ada di T2. Sesampainya di T2, kami langsung mencari loket penjualan tiket untuk naik transportasi publik. Pilihan saya adalah… STP. Yak, ada 3 pilihan tiket untuk naik kendaraan umum (MRT dan bus).

1. Tiket sekali perjalanan
Saya tidak merekomendasikan karena akan tekor selama perjalanan.
2. EZ-link
EZ-link ini semacam tiket terusan, dimana tarif akan dikenakan sesuai dengan jarak yang ditempuh dan akan mengurangi saldo kartu. Harga untuk pembelian kartu $5 dan saldo dapat di topup. Pakai EZ-link lumayan murah kalau di sana hanya menginap di hotel dan jarang pakai transportasi umum.
Info lengkap kunjungi: http://www.ezlink.com.sg/
3. STP (Singapore Tourist Pass)
Dengan STP kita bisa melakukan perjalanan unlimited baik dengan MRT, LRT, ataupun bus. Kita hanya membeli masa berlaku kartu ditambah dengan deposit. Waktu itu saya membeli yang 3 hari seharga $20 + deposit $10. Untuk mendapatkan kembali deposit yang telah dibayarkan, kartu STP harus dikembalikan ke loket tiket. Kalau tidak dikembalikan deposit akan hangus dan kartu STP masih bisa digunakan sebagi Ezlink (bisa ditopup juga).
info lengkap kunjungi: http://thesingaporetouristpass.com.sg/
Tujuan pertama kita kali ini adalah HOSTEL. Taruh barang dan dandan cantik dulu dong sebelum caw, hihii…
Kita menginap di Traveller@SG di daerah Lavender street. Tempatnya bersih, cukup nyaman, dan nggak terlalu jauh dari halte bus dan stasiun MRT (Lavender). Sepertinya hostel ini termasuk favorit para backpacker Indonesia, karena saya menemukan beberapa sisa shampo sachet ‘made in Indonesia’ di kamar mandi. Ew~

Harganya sekitar 320.000 untuk 2 malam. Beli di tr*vel*ka

Nah destinasi pertama kita (seriusan) adalah PUB Newater. Jadi disini saya dan Kadek sempat mengambil botol minum di hostel dulu sehingga kami ketinggalan rombongan. (Percayalah botol minum adalah sesuatu yang sangat amat penting untuk ditinggalkan begitu saja) Kebetulan ada jalan yang sedang dalam pembangunan sehingga kami hatus berjalan kaki kurang lebih 2 km ke tempatnya. Untung saja kami tidak terlambat. Kami datang tepat sebelum dimulai sesi presentasinya.

PUB NEWater Singapore

Saya sangat amazed mengenai pengelolaan airnya. Sebenarnya teknologi yang digunakan bukanlah teknologi baru (khususnya untuk saya yg kuliah di teknik kimia). Sudah banyak penelitian bahkan aplikasinya. Tetapi sayang masih skala kecil, tidak sebesar di Singapura. Water treatment‘nya untuk satu negara coy, bukan cuma satu rumah. Plant yang saya datangi ini untuk pengelolaan air limbah. Every drops count! Beda banget dengan Indonesia yang terlalu kaya dengan air sehingga dibuang-buang.
Pengelolaan air limbahnya ada 3 tahap:
1. Nanofiltration untuk menyaring partikel-partikel kecil
2. Reverse osmosis
3. UV filter untuk membunuh kuman
Dengan ini berakhirlah sesi kita di PUB Newater. Setalah ini acara bebas dan saya memilih untuk ke Kompleks Merlion Park. Konon katanya kita belum ke Singapura kalau belum foto sama patung singa yang jadi icon Singapura. Disini niatnya pengen ketemu bule atau apalah yang bisa meningkatkan skill bahasa, tapi apa daya ketemunya ibuk-ibuk Indonesia juga yg nyuruh fotoin.

Merlion Park dengan gedung Esplanade di belakangnya

Patung Merlion

Karena sudah sore saya kembali ke hostel untuk mandi. Tapi ternyata anak2 yang lain masih jalan-jalan dan belum kembali sama sekali. Awalnya mau istirahat saja di hostel berhubung kaki sudah pegal dan tidak ada teman berangkat. Tapi sayang banget kalau jauh-jauh ke Singapura hanya untuk pindah tempat tidur.
Alhasil, dari baca peta dan menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan pergi ke Garden by the Bay. Iya, saya SENDIRIAN. (Ngenes ya?) Jadi tidak bisa foto deh…

Garden by the Bay

Kelihatan kan bianglala tertingginya?

Sebenarnya banyak yg bisa dieksplorasi di kompleks ini, tapi kebanyakan berbayar. Lain kali kalau ke Singapura lagi saya sangat ingin menonton konser di Esplanade dan masuk ke ArtScience Museum. Nabung dulu…
Jam ternyata sudah menunjukkan hampir jam 11 malam, berarti saya harus buru-buru untuk mengejar MRT sebelum jam operasionalnya selesai. Dan perjalanan hari pertama selesai.
See you in the next day!

Leave a Reply