Motivasi yang Membuatku Gagal

Menjadi wakil Indonesia di kancah Internasional mungkin (pasti) menjadi impian semua orang. Bayangkan ketika membentangkan sang merah putih di atas podium di depan seluruh penduduk dunia, siapa yang tak bangga?

7th IOAA, Volos, Greek

Seperti yang lain, impianku sama. Impian kami, 31 orang, pun sama. Namun kesempatan yang ada tidaklah sebanyak jumlah kami. Sehingga kami harus bersaing ketat untuk mendapat tiket ke Romania atau Kirgiztan. Persaingan dalam hal intelegensi cukup berat. Karena kami ada disini telah melewati berbagai seleksi, mulai dari OSK, OSP, dan OSN. Bukan hanya keberuntungan semata… Itu artinya, ya, bisa dikira-kira kalau kami, 31 orang, cukup kompeten di astronomi.

Secara mental kami benar-benar diuji, yang paling kuatlah yang akan menjadi pemenang. Mulai dari jadwal yang sangat padat, ke Bosscha hingga subuh, hingga bayang-bayang ujian di sekolah yang terkadang muncul. Namun yang paling berat menurut saya (mungkin juga kami) adalah ketika harus bersaing dengan teman sehobi dan seperjuangan. Terlebih setelah persahabatan kita terjalin erat di bawah langit. Kami bersaing, tetapi tidak ada di antara kami yang saling menjatuhkan, dan itu cukup melegakan.

Pelatnas I ini tidaklah mudah.

Atau seperti kata teman-teman, Bandung itu keras.

———————————————————————————————–

Ketika menuliskan tanggal 7 Desember, saya mendadak tidak fokus. Antara gugup, takut, dan penasaran. Setelah lewat waktu senja astronomis, spoiler pun keluar. Singkat cerita, saya tidak lolos. Itu artinya saya harus mengubur impian ke Suceava untuk IOAA. Saya harus secepat mungkin bangun dari mimpi, bangkit dari jatuh, dan melakukan apapun yang lebih baik daripada hanya sekedar menyesal.

Beberapa waktu saya sempat merenung. Saya mencoba mencari apa kekurangan saya, dengan harapan bisa memperbaikinya suatu saat nanti. Saya menemukannya. Kekurangan saya adalah…

Motivasi.

Impian.

Cita-cita.

Ketika OSP, impian saya di OSN adalah menggunakan teleskop. Hanya itu. Namun saya terus membayangkannya setiap saat. Dan itu tercapai, saya lolos ke OSN. Impian saya selanjutnya adalah pergi ke Bosscha, dan mempelajari ciptaanNya lebih jauh lagi. Hal itu hanya bisa didapat jika saya ke Pelatnas I. Itu artinya saya harus mendapat medali. Impian yang sederhana tetapi kuat itu mampu membawa saya kesini, ke Pelatnas I, bertemu dengan 30 orang lainnya.

Disinilah masalah saya dimulai. Saya hanya focus mewujudkan impian lama, hingga ketika impian lama itu terwujud saya terlambat membuat impian baru. Jujur, saya tidak tau apa tujuan saya disini. Mempelajari semesta, hanya itu. Setelah belajar, lalu apa? Saya tidak membuat jawabannya saat itu.

Negara destinasi IOAA yang cukup menggiurkan pun hanya ada di lisan dan pikiran saya. Kesalahan saya adalah saya tidak menanamkannya di dalam hati saya. Keinginan untuk pergi kesana dan membawa bendera Indonesia tidaklah sekuat keinginan-keinginan saya sebelumnya. Karena waktu itu saya tidak berani memasang impian yang terlampau tinggi. Saya realistis terhadap kemampuan saya. tapi saya salah. Kemampuan bisa diubah karena kemauan.

“Raihlah cita-citamu setinggi langit ke-7. Jika kamu gagal, masih ada langit ke-6 dibawahmu.”
Jika langit ke-7’mu saja tidak tinggi, bagaimana dengan langit ke-6, ke-5, dan langit-langit dibawahnya?

Saya tidak seberapa menyesali kegagalan saya. Karena mereka yang berhasil mempunyai kemampuan dan mental pemenang yang lebih dari saya. Namun saya sangat menyesali motivasi saya saat itu yang terlampau lemah. Tujuan saya yang kabur. Cita-cita saya yang mengambang.

Kegagalan kali ini membuka mata saya bahwa kekuatan motivasi itu benar-benar ada. Motivasi yang membuatku gagal adalah motivasi yang lemah, tidak kuat, dan ragu. Dan itu tidak akan terjadi lagi…

“Carilah motivasimu, karena motivasi tidak akan mencarimu. Cerilah motivasi yang mampu membuatmu berhasil dan mampu membuatmu bertahan jika kamu gagal”

Saya yakin suatu saat nanti saya akan mengharumkan nama Indonesia di dunia. Entah tahun depan, entah 5 tahun lagi, entah 20 tahun lagi, entah suatu saat nanti. Saya akan membuktikan dan mengumumkan pada dunia bahwa saya telah menemukan impian dan motivasi saya yang sederhana, tetapi tulus dan kuat, yang mampu membawa saya ke puncak. Saya berjanji.

Bagi kalian yang lolos ke tahap selanjutnya, percayalah kalian bisa. Kalianlah yang terbaik bagi Indonesia. Harumkanlah nama Indonesia hingga ke pelosok dunia. Nyanyikanlah Indonesia Raya hingga seluruh penjuru langit mendengarnya.

Saya senang pernah bertemu dan berteman dengan kalian, calon orang-orang hebat dunia. Semoga kita dapat bertemu lagi suatu saat nanti. Ketika saat itu datang masing-masing dari kita siap menceritakan kisah tentang kesuksesannya. See you at the top…

Saya bangga menjadi Indonesia.

Saya bangga menjadi bagian dari TOASTI 2014.

IMG_1446

IMG_1047

Terima kasih telah mengajarkan saya tentang kehidupan. terima kasih telah mewarnai sebulan dari kehidupan saya. Terima kasih atas semua kenangannya.

“Karena langitlah kita dipertemukan. Karena langitlah kita tidak akan terpisahkan. Karena di langit ada kita. Di langit ada cerita. Di langit ada cinta… Selama di atasku masih ada langit, selama itulah aku akan mengingat kalian.”

Terima kasih TOASTI 2014

CANOPUS,
Novita Eka R.

——————————————————————————————-

Ah, kapal di langit telah terlihat. Argo Navis telah datang menjemputku. Membawaku mengarungi langit di jalur Milky Way. Menghidupkanku di dalam mimpi-mimpiku. Hei, aku tidak sendirian. Aku melihat kalian juga berpetualang sepanjang malam. 30 bintang itu kalian, menjelajah semesta di rasi naungan masing-masing. Kalian benar-benar berada di langit!

Sudah berapa lama aku berada di langit? Sang bintang terang telah terlihat rupanya. Menyembul perlahan di langit timur. Membuat Argo Navisku mulai tak terlihat lagi bentuk nyatanya. Itu artinya aku harus kembali dari petualanganku. Menyongsong kehidupan nyataku di bawah terik.

Tapi aku akan terus bermimpi. Aku tak akan berhenti berpetualang di langit luas dan bebas. Aku akan terus berada di Argo Navis, kapal yang selalu menjadi naunganku. Aku akan terus meninggikan langit ke-7’ku. Hingga suatu saat nanti aku akan membawa kapalku kesana…

Leave a Reply