Nilai Turun? So WHAT?!

Sekitar 3 minggu yang lalu, rapor semester 5 dibagikan. Cukup shock memang melihat nilai yang terjun bebas tak terkendali. Nilai seluruh mata pelajaran UN anjlok, kecuali Fisika dan Bahasa Inggris. tak tanggung-tanggung, bisa turun hingga 5 digit satuan. Bahkan jumlah keseluruhan rapor pun turun. Ya, walaupun hanya turun 0,7 tetap saja turun.

Rasanya lemas saat itu juga. Ekspektasiku tentang nilai yang stagnan tak terwujud. Mau nangis tapi gak bisa. Mau marah tapi gak tau harus marah ke siapa.

“Kalau nilai anak di kelas 3 tetap, itu berarti anak tersebut tidak mempunyai proses di kelas 3.”

JLEB… tiap ingat kalimat Kepala sekolah yang-tak-sengaja-kudengar itu rasanya benar-benar kecewa sama diri sendiri. Kalau nilai stagnan saja tidak berproses, bagaimana dengan aku yang nilainya turun? Aku sering menggumam dan bertanya sendiri, apa benar kerja kerasku di kelas 3 ini benar-benar tidak menunjukkan proses?

Aku pulang ke rumah. Aku tidak sempat mempersiapkan mental. Dengan terpaksa menunjukkan hasil yang payah ke orang tua. Dan, ya! Sangat jauh berbeda dengan pemikiranku. Orang tuaku sama sekali tidak marah atau kecewa. Mereka malah menenangkanku. Mereka maklum jika nilaiku turun karena OSN dan semacamnya. Tapi apa iya panitia SNMPTN nanti akan maklum?

Baiklah… sekarang waktunya liburan. Lupakan tentang rapor atau kumpulan angka-angka itu. Nikmati hidup…

Sepulang liburan, di tahun yang baru, entah darimana aku mendapat ilham. Kembali aku teringat pada nilai raporku, kekecewaanku masih ada tapi tak banyak. Aku tersadar jika ilmu itu tidak dapat diukur dengan nilai. Walaupun kenyataan di negeri ini nilai adalah satu-satunya tolak ukur pencapaian suatu ilmu.

Satu mindset sudah tertanam. Ilmu tidak dapat diukur dengan nilai, apapun yang terjadi.

aku mengingat guru mapel di kelas, lalu aku membuka kembali nilai raporku. Voila! Ternyata nilaiku cukup tinggi. Dengan ‘bolos’ sekolah yang cukup (sangat) lama dan guru yang tidak semurah hati kelas 1 dan 2, aku berhasil mendapat nilai sedemikan baiknya. Jika dilihat dan dipikirkan ulang, pencapaianku tidak jauh berbeda, bahkan naik jika dibandingkan dengan semester sebelumnya. Hanya saja angkanya menyusut.

Kemarin, ketika curhat tentang jurusan kuliah, guru fisika dan kimia benar-benar membuka mataku bahwa jangan terlalu khawatir dengan nilai yang turun. Pertama, memang gurunya tidak murah hati. Kedua, otak manusia itu fluktuatif. Banyak faktor X yang mempengaruhi otak manusia, mungkin masalah di rumah, pikiran-pikiran liar, pacar, galau PTN, dsb. Faktor materi juga sangat berpengaruh. Tidak mungkin satu otak mampu optimal di seluruh bab di seluruh mata pelajaran, apalagi semakin lama materi semakin sulit.

Aku juga dijelaskan nilai yang bagaimana yang dianggap turun dan yang mana yang tidak. Jika dalam range yang ditolerir, missal dari 94 ke 92 atau dari 92 ke 88, seharusnya itu tidak dianggap turun. Masih dalam range A, jadi tidak perlu terlalu risau. Sekali lagi, otak manusia itu fluktuatif… Berbeda halnya jika benar-benar terjun bebas. Seperti dari 94 ke 83, itu sangat jauh dan bisa dianggap turun.

Sayang sekali sejak awal kita tidak diberi penjelasan tentang itu. Mindset kita sejak kecil adalah Nilai itu patokan keberhasilan ilmu dan nilai tidak boleh turun. Dalam pikiran kita adalah dari 90 ke 89.9 itu turun, mirip seperti pikiran pertamaku…

Mengubah mindset sebagian besar pelajar tidaklah mudah. Namun paling tidak aku telah berhasil mengubah mindsetku sendiri, dan mungkin beberapa orang juga akan mengikutiku.

Akhirnya, aku ingin mengatakan jika:

“Nilai itu bukan segala-galanya. Nilai hanyalah kumpulan angka. Seberapa besar prosesmu, hanya dirimu sendiri yang bisa menilainya.”

Satu lagi, SNMPTN memang sebuah peluang, patut untuk diperjuangkan. Tapi bukan satu-satunya jalan. SBMPTN masih terbuka kok. Menurutku orang yang masuk dari SBMPTN itu lebih keren dan akan lebih sukses di universitasnya.

Sekian. Selamat menikmati perjuangan. See you at the top 🙂

Novita Eka

Leave a Reply