Orang-orang Baik

Terkadang siang yang terik menjadi penurun mood yang terbaik, namun terkadang menjadi suatu rezeki bila kita pandai bersyukur.

Siang terik itu saya mengorder GoJek untuk ke Gubeng. Rencananya saya akan beberapa hari ke Kediri untuk bersenang-senang sambil melakukan hobi. Bapak Gojek-nya baik, ramah, dan murah senyum. Singkat cerita ketika saya sampai di pertigaan Jalan Sulawesi terdengar suara letusan. Alih-alih berbelok ke kanan, motor  kami malah menepi ke kiri. Saya baru menyadari bahwa ternyata ban kamilah yang meletus.

“Mbak, ban saya meletus. Maaf saya cuma bisa nganter sampai sini. Mbak order lagi saja, transaksinya saya anggap selesai.”

“Oh iya, Pak, gak papa.”

“Lho mbak, ternyata pakai GoPay? Saya kira tunai jadi gak usah bayar. Saya kembalikan ya uangnya”

Saya melongo sesaat kemudian menolak. Mungkin karena merasa tidak enak atau gagal menunaikan amanah (mengantar saya sampai tujuan). Tapi saya cukup tau diri karena sisa perjalanan saya tinggal sedikit, masa iya saya sudah diantar sampai sejauh ini terus tidak bayar?

Lalu lintas padat, membuat saya lama berdiri ragu untuk menyeberang. Kemudian ada yang membarengi saya. Saya kira beliau memang ada urusan di seberang jalan, tetapi ternyata hanya menemani saya menyeberang.

“Coba tanya angkot saja mbak, kalaupun tidak sampai depan Gubeng paling tidak bisa berhenti di lampu merah terus tinggal jalan sedikit”

Saya pun mengikuti nasehat Bapak itu. Namun memang angkot tidak berpihak pada saya. Sembari menunggu angkot, saya melakukan order GoJek lagi barangkali dapat. Saya masih menanti angkot lewat dengan setia sambil sesekali mengecek HP saya yang lowbat. Saya lumayan ketir-ketir karena 20 menit lagi kereta saya berangkat dan belum ada tanda-tanda angkot yang datang. Di sisa-sisa baterai yang masih ada, ada telepon masuk yang rupanya dari GoJek. Ah, saya sangat lega saat itu. Tak berapa lama, mas-mas GoJek datang dan saya sampai di stasiun sebelum kereta datang.

Sembari menanti kereta datang, saya teringat Bapak GoJek tadi yang bannya meletus, harus menuntun motor, apalagi saat itu siang hari (sudah tau siang di Surabaya kan?), hingga mungkin saja terhalang mencari rezekinya. Seapes-apesnya saya hari itu, sepertinya saya tidak seapes Bapaknya. Namun dalam kondisi seperti itu Bapaknya masih sempat berniat mengembalikan uang saya. Kemudian Bapak yang menyeberangkan saya, lalu mas-mas GoJek kedua yang tak kalah ramah. Lalu ada mbak-mbak yang lebih muda dari saya yang mau bertukar tempat duduk karena saya tidak mau berjalan mundur.

Bahagia rasanya ketika saya menyadari bahwa sangat banyak orang-orang baik di sekeliling kita. Bahagia saya diberi kesempatan bersyukur. Bersyukur itu sederhana, sesederhana melihat orang baik di sekitar kita…

Siang ini, terik tak mampu menghilangkan sunggingan senyum bahagia penuh syukur di bibir saya.

– Perjalanan menuju Kediri, 04 November 2016 –

Leave a Reply