Sepeda

Saya masih ingat teriknya siang beberapa hari yang lalu. Masih segar rasanya ingatan Bapak mengendarai sepeda dengan helm agar sedikit tidak panas.

Pagi itu Bapak bersama Ibuk datang dari kampung, berdua ke Surabaya karena anaknya ngeyel minta sepeda. Jam masuk kantor jalanan macet, kata Ibuk yang terlihat lelah. Tidak ada suguhan selain nasi lauk urap dan tempe. Setelah makan, Bapak dan anaknya (saya) menuju terminal, mencari-cari toko penjual sepeda. Hanya ada dua di sekitaran terminal. Waktu didatangi, barangnya laris lagi habis katanya. Tak sabar ingin membeli sesuatu yang diminta anaknya, Bapak mengajak saya ke daerah Rungkut. Benar saja banyak toko sepeda berjajar. Kami masuk ke salah satunya. Mata ini jelalatan melihat banyaknya sepeda di situ. Namun tetap saja ada saya kecantol dengan salah satunya. Kata si Bapak penjual yang lagi baca buku agama itu tak sampai sejuta harganya. Ah, harganya sama dengan isi dompetku yang memang tidak bisa menyimpan uang banyak. Sepeda baru, Alhamdulillah.

Memang benar kata Ibuk, jalanan lagi ramai. Kalau tidak mau nyenggol orang, ya harus ditunggangi sepedanya. Bapakpun ngonthel dari toko yang barusan dapat rezeki itu ke kosan. Tidak sepanjang jalan ngonthel memang, tapi separuh jalanpun sudah lumayan membakar. Saya sudah bilang kan kalau siang itu terik? Oh, mungkin Saudara bisa menjajalnya kemari dan merasakannya sendiri. Ketika jalanan sedang sepi, Bapak dan si sepeda merah itu naik ke atas motor.

Sesampainya di rumah kosan, tidak ada suguhan paling enak selain es buah yang segar. Bapak dan Ibuk menikmatinya sebelum kembali. Mungkin Bapak dan Ibuk sudah puas menuruti keinginan anaknya dan melihat senyum anaknya di perantauan.

Sekarang saya mengingat lagi siang terik itu. Sepeda yang tak seberapa mahal itu raib di orang lain entah siapa. Saya sudah menangis tadi. Tidak, tidak, ini bukan hanya sekedar harga. Toh yang saya beli itu sepeda murah. Walaupun semurah-murahnya sepeda itu, tetap saja hampir menyamai gaji sebulan Bapak. Tapi kalau ingat lagi umur si sepeda yang belum sempat difoto selfie bersama pemiliknya dan pengorbanan Bapak yang sampai berangkat dari kampung ke sini, siapa yang tidak jadi sedih?

Berarti memang rezekinya hanya menunggangi beberapa hari, selebihnya itu rezeki orang, kata Ibuk di seberang sana. Beberapa kali saya tidak jadi dapat rezeki, tapi selalu diganti dengan yang lebih baik. Mungkin ada pengganti lain juga yang lebih baik. Cuma yang saya heran, kenapa tangan orang begitu gatal mencomot barang orang lain? Pencuri itu ada dalam kesempitan atau kesempatan? Kalau dia orang yang tidak berpunya, saya juga. Masih belum habis pikir kenapa yang diambil sepeda yang memang satu-satunya dipunya orang tak berpunya. Tidak adakah rasa solidaritas dan peduli lagi di negeri ini?

Bapak, Ibuk, dan saya yang memang jarang punya isi dompet sengaja patungan beli sepeda. Sepeda yang tak seberapa punya harga, eh diambil juga. Sedikit atau banyak, rezeki orang memang siapa yang duga. Sudah ada yang mengatur Di Atas sana.

Leave a Reply