Tidak Apa-apa Merepotkan Orang Tua

Selamat hari orang tua!

Eh, memangnya ada ya? Ah, ada atau tidak ada pun tak masalah. Jasa orang tua memang sangat besar dan tidak akan mampu dikalahkan oleh apapun. Hal tersebut tidak terbantahkan lagi.

Jadi, apa teman-teman pernah merasa menjadi anak yang tak berguna dan selalu merepotkan orang tua? Saya pernah dan saya rasa pada suatu waktu setiap orang pernah berada di titik ini.

Waktu itu saya meminta orang tua untuk mencarikan surat-surat keterangan. Saya sudah bilang untuk dikirim saja via pos kilat. Namun surat tersebut diantarkan Ayah saya naik bus. Takut suratnya tidak sampai makanya diantar langsung, katanya.

Padahal beberapa hari sebelum itu, saya meminta uang secara tiba-tiba untuk membayar kos, karena uang beasiswa tak kunjung cair. Ibu saya berkata bahwa besok akan segera ditransfer. Sebelum menutup telepon, sayup-sayup aku mendengar keluhan.

“Duhhhh Pak, anakmu minta uang lagi. Uang dari mana?”

Hati saya benar-benar teriris. Seketika saya menangis. Saya mencoba menyembunyikan apa yang saya rasakan, tapi ketika teringat keluhan yang pilu itu saya menangis. Pilek menjadi alasan yang paling sering saya gunakan ketika kepergok menangis.

Meskipun sebelum-sebelumnya saya adalah orang kuat, yang bisa survive tanpa bergantung pada orang tua, namun saat itu saya merasa menjadi manusia lemah. Orang lain mungkin akan melihat saya baik-baik saja, tapi hati saya hancur. Saya tertekan oleh batin saya sendiri.

Sampai suatu ketika orang tua saya berujar, “Kamu jangan merasa nggak enak sama orang tua. Jangan merasa merepotkan. Nggak apa-apa. Sudah tugasnya orang tua itu.”

Setelah itu saya mencoba menata hati. Berkubang dalam perasaan ‘orang yang tidak bisa apa-apa’ sangatlah tidak menyenangkan. Pelan-pelan saya membuang rasa bersalah saya. Saya menerima kenyataan bahwa memang sudah selayaknya orang tua direpotkan dengan urusan anak-anaknya.

Semua sudah ada porsinya masing-masing. Mencari uang dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya adalah kewajiban orang tua. Sementara kewajiban anak adalah belajar, memberi yang terbaik. Sesederhana itu.

Hal ini tidak berarti sebagai anak bisa bersikap semena-mena. Tidak sama sekali. Ini hanya untuk refleksi agar tidak terjebak dalam perasaan bersalah kepada orang tua. Pun kalau kita nanti telah menjadi orang tua tentunya akan melakukan hal yang sama.

Ada saatnya nanti kita menjadi anak yang dibanggakan. Yang dengan senangnya diceritakan ke sana-sini ke rekan-rekan mereka di seluruh penjuru desa. Anggaplah apa yang sudah dilakukan orang tua menjadi pecutan untuk terus menjadi lebih baik. Jika kita bisa menjadi seseorang yang bermanfaat, pastinya hal itu akan menjadi ladang pahala bagi mereka. Bukankah begitu?

Baik, saya sudah menghabiskan berlembar-lembar tisu untuk menulis ini. Dan saya tidak mempunyai stok tisu lagi karena sedang di perjalanan. Jadi, sekian cerita singkat saya.

Mutiara Selatan, antara Surabaya dan Madiun.

Agustus 2017

Leave a Reply